Syukur Nikmat Ala Nabi Sulaiman AS.
Oleh Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pokjawas KanKemenag Polman)

By Administrator 23 Des 2019, 08:48:37 WIB | dibaca 4507 kali Opini
Syukur Nikmat Ala Nabi Sulaiman AS.

Salah seorang nabi dan Rasul Allah yang diceritakan dalam Al-Quran adalah Nabi Sulaiman. Beliau seorang raja diraja, dianugerahi kerajaan yang belum pernah diberikan kepada orang lain. Ia memiliki kemampuan untuk memahami segala jenis bahasa makhluk hidup. Meski demikian Sulaiman tidaklah menjadi sombong, dia pandai mensyukuri nikmat Allah SWT.

Allah telah menciptakan Sulaiman, seorang nabi yang dianugerahi ilmu pengetahuan dan mewarisi ayahnya, Daud AS. Dalam QS. An. Naml ayat 15 Allah swt berfirman: “dan, sungguh Kami telah memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman, dan keduanya berkata:  segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari banyak hamba-hamba-Nya yang beriman”.

Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as, bersyukur kepada Allah dengan mengucapkan “Alhamdulillah”. Banyak kelebihan yang dimiliki oleh keduanya, perhatikan QS. An Naml ayat 16 “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia (Sulaiman) berkata: “Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh semua ini benar-benar karunia yang nyata”.

Nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada Sulaiman diantaranya tentara yang siap membantu, tentaranya dari bangsa jin, manusia dan burung. Para tentara itu berbaris dengan tertib (QS. An Naml ayat 17). Suatu ketika para tentara itu berbaris hingga sampai di sebuah lembah semut. Berkatalah ponggawa semut “Wahai semut-semut, masuklahlah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. (QS. An Naml ayat 18).

Manusia pada umumnya tidak peduli terhadap semut. Makhluk kecil yang tak terlihat dengan jelas. Beda dengan Nabi Sulaiman as, sangat peduli terhadap makhluk sekecil semut. Beliau mendengar dan menyaksikan kepanikan salah satu golongan ummatnya, golongan semut. Nabi Sulaiman AS, kemudian menghentikan pasukannya dan membiarkan kelompok semut itu segera memasuki saranganya untuk berlindung. Nabi Sulaiman kemudian berdoa “Ya Tuhanku, anugrahilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh” (QS. An Naml ayat 19).

Kisah menarik yang bias kita kaji lebih lanjut. Sulaiman seorang raja diraja, dia adalah seorang pimpinan. Semut adalah makhluk kecil dari ummatnya. Semut adalah rakyat arus bawah. Memahami kondisinya sebagai rakyat jelata ia merasa pasti pimpinan akan memperlakukannya dengan sekehendak hati, menginjak-injak dan kurang memperhatikannya.

Rupanya dugaan semut sang arus bawah ini salah, ternyata Sulaiman sang pemimpin ini beda dengan pemimpin lainnya. Saat mereka para semut lari terbirit-birit ketakutan, Sulaiman malah menghentikan pasukannya dan membiarkan kelompok semut itu memasukinya rumahnya dengan tenang. Sulaiman memahami bahwa pengetahuannya terhadap suara semut adalah anugerah dari Allah SWT.  karena itu ia bersyukur dengan membiarkan semut menyelamatkan diri.

Sulaiman sebagai raja dan semut adalah gambaran rakyat kecil. Rakyat kecil segan dan sangat takut bertemu dengan rajanya (baca pemimpin).

Namun Sulaiman memberikan contoh pemimpin yang baik dengan menyelamatkan ummatnya, rakyatnya. Seorang pimpinan harus memperhatikan keselamatan bawahannya seperti Sulaiman. Bagaimana dengan pemimpin dunia saat ini? Bukannya memperhatikan rakyat, rakyat sudah demo pun tidak dipedulikan. Sehingga rakyat makin terbiasa demo tetapi pemerintah pun menganggap demo sebagai angin lalu.

Sulaiman sang raja diraja dan siapa pun yang menjadi pemimpin, hendaknya memahami bahwa kesyukuran kepada Allah itu sangat bagus dampaknya. Kesyukuran Sulaiman membuat nikmat Allah senantiasa ditambahkan. Berbicara dengan segala makhluk karena dianugerahi pengetahuan bahasa semua jenis makhluk. Kendaraan berupa permadani yang mengatarnya untuk melakukan supervise. Istri yang cantik jelita, seorang Ratu pula. Semua itu di dapatnya sebagai anugrah atas kemampuannya mensyukiri nikmat Allah SWT. Juga menjadi bukti dari ayat Allah SWT. QS. Ibrahim ayat 7 “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti adzab-Ku sangat pedih”

Dalam kehidupan di dunia, banyak tamsil (mungkin akibat tidak pandai bersyukur). Awalnya belimpah harta, kedudukan yang terhormat, tetapi ada suatu masa, dia menjadi terpuruk, ditangkap pihak berwenang lalu dirumahkan dalam penjara. Maka siapa pun kita, apa pun jabatan kita, semua itu anugrah (bahkan amanah) dari Allah swt. Hendaklah kita mensyukurinya. Belajar bersyukur seperti syukurnya nabi Sulaiman AS.

Maka alangkah indahnya jika dunia diisi dengan orang-orang bersyukur. Orang yang berilmu, sarjana, pakar, cedekiawan, mensyukuri nikmat Allah, seperti Sulaiman yang memiliki ilmu pengetahuan yang melebihi sarjana, pakar, cendekiawan tapi tetap bersyukur. Orang kaya dengan harta berlimpah pandai bersyukur seperti Sulaiman yang kaya raya, bahkan istananya dari emas, tetap bersyukur kepada Allah SWT. Pemerintah, pimpinan, punggawa tetap bersyukur seperti Sulaiman sang raja diraja, menguasai jin, manusia dan burung, tapi senantiasa bersyukur kepada Allah swt. Wallahu a’lam (Polewali, 22 Desember 2019).**

Penulis : Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I. (ASN Kemenag Polman/Wakil Sekretaris Pokjawas Madrasah / Penceramah)

Acc/Editor by Inmas Kemenag Polman (Ahmad F.)


Download File : janji-allah-kepada-orang-yang-pandai-bersyukur.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 4 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan