Rukun Keislaman (Sebuah Tinjauan Filosofis)
Oleh: Burhanuddin Hamal (Penyuluh Agama Islam / ASN Kemenag Polman)

By Administrator 20 Des 2019, 19:16:32 WIB | dibaca 742 kali Opini
Rukun Keislaman (Sebuah Tinjauan Filosofis)

ISLAM sebagai agama dibangun dalam muatan 5 rukun pokok yaitu Syahadatain (ucapan 2 kalimat Syahadat), Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (bagi yang mampu). Tentu saja urutan dari kelima rukun tersebut bukan sesuatu yang kebetulan melainkan rasionalitasnya jelas dalam analisis.

(1) SYAHADATAIN, adalah pondasi awal yg menuntut setiap Muslim untuk percaya sepenuhnya terhadap posisi Allah sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai utusan-Nya. Legitimasi awal kemusliman ini bukan hanya mengarahkan manusia pada kemampuan mengucapkan Syahadatain di lisan saja tetapi disamping muaranya di hati juga cermin pembuktiannya memantul pada realitas sikap, perilaku dan perbuatan. Kesaksian terhadap posisi Allah sebagai Tuhan bukan hanya dalam hal keESAan-Nya tetapi semua yang menyangkut otoritas-Nya termasuk perintah dan larangan-Nya pun menjadi bagian yang harus diimani dalam kesaksian sebagai hamba.

Dengan begitu, apapun yang diperintahkan diyakini sebagai yang pasti mendatangkan manfaat jika dilakukan dan semua yang dilarang-Nya diyakini sebagai yang pasti berujung mudharat jika dilanggar. Kebenaran mana lagi yang sejatinya menjamin keselamatan hidup bagi manusia di 2 alam (Duniawi dan Ukhrawi) selain kepatuhan pada Allah dan Rasul-Nya?

(2) SHALAT, merupakan "tiang agama" yang mutlak didirikan. Disamping merupakan refleksi dari penciptaan diri manusia secara paripurna juga pemberdayaan makna dan nilainya dalam membangun kehidupan individu maupun sosial menjadi sebuah kemestian. Bukankah Tuhan menjamin jauhnya kekejian dan kemungkaran dari kehidupan mereka yg konsisten "mendirikan" nilai-nilai shalatnya?

(3) ZAKAT, merupakan ibadah personal berdimensi sosial. Jangankan mencapai kategori beriman dalam pandangan agama, sisi manusiawi pun dari kehidupan seseorang layak dipertanyakan bilamana ketaatan ritualnya tak berbanding dengan kepedulian sosialnya. Di sinilah peran Zakat sebagai media kesejahteraan hidup bagi manusia yang terbingkai dalam eksisx kemaslahatan bersama.

(4) PUASA, disamping sebagai kewajiban bagi setiap individu juga mengajarkan perawatan hubungan yang intens dengan Tuhan lewat prinsip kejujuran, keihlasan, ketegaran dan kesabaran. Taqwa sebagai targetnya identik dengan wujud manusia yang sehat secara rohani dan jasmani. Obyektifitas berpuasa tak mungkin memproduksi manusia-manusia egois dan arogan, dengki, tidak amanah dan semacamnya. Dengan demikian, skala kehidupan mana yang tidak akan terkondisikan dalam bingkai "baldatun thayyibatun warabbun ghafur" (pencitraan situasi Negeri yang sejahtera dalam naungan ampunan Tuhan) bila dikelolah oleh manusia-manusia yang " sehat" karena refleksitas ketaqwaan puasanya?

(5) HAJI, merupakan Rukun Islam yang terahir. Meski formilnya kewajiban ini diperuntukkan bagi yang berkemampuan namun esensi dan predikat haji yang sesungguhnya ditentukan oleh akumulasi kelulusan terkait pendalaman dan kemampuan menerjemahkan nilai-nilai sosial dari deretan Rukun-Rukun Islam sebelumnya. Bukankah tanda-tanda Haji plus indikator kemabrurannya tercermin pada kualitas diri yang agamis secara ritualitas dan sosial?

Karena itu, sebelum "menamatkan" pelajaran dalam melakoni nilai-nilai diri sebagai MUSYAHIDIN, MUSHALLIN, MUZAKKIN dan SHAIMIN maka capaian MUHAJJIN secara esensi dan reputasi kepribadian selamanya akan menjadi fatamorgana yang wujudnya ternyata tak lebih hanyalah bayangan yang menipu.....Semoga Tuhan membimbing kita semua menuju sosok Muslim yang "kaffah"....Wallahu a'lam.**

Penulis : Burhanuddin Hamal (ASN Kemenag Polman/Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kec. Limboro)

Acc/Editor by Inmas Kemenag Polman (Ahmad F.)


Download File : rukun-islam.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan