Remehkan 5 Golongan, Rugi 5 Hal
Oleh Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pokjawas KanKemenag Polman)

By Administrator 18 Des 2019, 20:41:13 WIB | dibaca 1626 kali Opini
Remehkan 5 Golongan, Rugi 5 Hal

Judul ini penulis singkat dari makalah seorang ulama besar Ibnu Hajar Al Asqalani “Barang siapa meremehkan 5 golongan manusia, maka ia rugi dalam 5 hal” dalam kitabnya Nashaihul Ibad. Lengkapnya hadits diriwayatkan dari nabi Muhammad saw Barangsiapa meremehkan 5 golongan manusia maka ia rugi dalam 5 hal.

Pertama: Manistakhaffa bil’ulamaa’i hasiraddien (Barangsiapa meremehkan ulama maka ia rugi dalam urusan agama)

Kedua: Wamanistakhaffa bil umaraa’ hasiradduniya (Barangsiapa yang meremehkan umara maka ia rugi dalam urusan dunia)

Ketiga: Wamanistakhaffa bilji-rani hasiral manafi’ (Barangsiapa meremehkan tetangga maka ia rugi dalam urusan yang bermanfaat)

Keempat: Wamanistakhaffa bil ‘aqriba’i hasiral mawaddah (Barang siapa yang meremehkan kaum kerabat, maka ia rugi dalam urusan kasih sayang)

Kelima: wamanistakhaffa bi ahlihi hasira thi-bal ma’iysyah (Barangsiapa meremehkan anggota keluarganya maka ia rugi dalam urusan kehidupan yang baik)

Ada lima golongan manusia yang akan selalu bersentuhan dengan kita sebagai manusia individu. Kelima golongan manusia itu bila terjalin komunikasi yang baik, silaturahim yang terbina, maka kita akan merasakan betapa indahnya dunia. seakan merasakan indahnya surga dunia. kelima golongan itu adalah ulama (guru, ilmuwan, pemilik ilmu-ilmu dunia dan akhirah), umara (pemimpin), jiiran (tetangga), Aqriba’i (Kerabat), dan ahlihi (Keluarga). Meremehkan mereka, akibatnya kita akan mengalami kerugian. Jika mengalami kerugian dengan meremehkan mereka, seakan merasakan betapa pahitnya kehidupan, hidup bagai dalam panasnya neraka dunia.

Ulama (bahasa Arab: al-ulamaa’u artinya 'orang-orang berilmu, para sarjana'‎) adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupun masalah sehari-hari yang diperlukan, baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Makanya jika menyepelekan ulama, maka rugi dalam urusan agama. Umara (Pemimpin, atau amir) dalam nuangsa ke-Indonesiaan, pemimpin kita mulai dari Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Kepala Desa, Kepala Madrasah/Sekolah, RT/RW, Kepala Kampung, mereka adalah umara dalam wilayah kepemimpinannya.

Dalam perspektif Al-Quran, Muhammad Chirsin menulis tentang ulama dan umara. Ulama dan umara adalah pasangan pemuka masyarakat yang utama. Ulama, kosakata bahasa Arab, bentuk jamak dari kata ‘alim, artinya orang yang berpengetahuan, ahli ilmu, orang pandai. Dalam bahasa Indonesia menjadi bentuk tunggal, yakni orang yang ahli ilmu agama Islam. Kata ulama sepadan dengan ulul albab dalam Al-Quran, yaitu orang yang arif.

Umara, bentuk jamak dari kata amir, artinya pemimpin, penguasa. Kosakata amir sepadan dengan ulul amri dalam Al-Quran yang artinya orang yang mempunyai pengaruh, kekuasan; orang yang memangku urusan rakyat; penguasa. Kata ulama terdapat dalam Al-Quran surat Asy-Syu’ara` dan Fathir berikut. Bukankah itu suatu bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil sudah mengetahuinya sebagai suatu kebenaran? (QS 26:197).

Konteks ayat tersebut bahwa banyak kalangan ulama Yahudi yang mengakui ajaran Nabi Muhammad saw itu datang dari Allah  swt, seperti Abdullah bin Salam dan Mukhayriq.

Demikian pula di antara manusia, binatang melata dan hewan ternak, terdiri dari berbagai macam warna. Sungguh yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama; mereka yang berpengetahuan. Sungguh Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun. (QS 35:28).

Hanya mereka yang mempunyai pengetahuan mendalam yang tahu bahwa takut kepada Allah adalah permulaan dari suatu kearifan. Karena rasa takut demikian sama dengan penghayatan dan cinta, – penghayatan akan semua keindahan dunia lahir dan dunia batin yang sungguh luar biasa (“Allah Maha Perkasa”), dan penuh cinta karena rahmat dan kasih sayang-Nya (“Maha Pengampun”).
Allah memberi hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan siapa yang diberi hikmah, ia telah memperoleh kebaikan melimpah; tetapi yang dapat mengambil pelajaran hanya orang yang arif. (QS 2:269).

Para ulama adalah pewaris Nabi dan penerus tugas-tugasnya di dunia, yakni membawa kabar gembira, memberi peringatan, mengajak kepada Allah, dan memberi cahaya.

Wahai Nabi, sungguh Kami mengutus engkau sebagai saksi, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan sebagai orang yang mengajak kepada Allah dengan izin-Nya, serta sebagai pelita pemberi cahaya.

Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang beriman, bahwa mereka akan memperoleh karunia yang besar dari Allah. (QS 33:45-47).
Para ulama adalah penjaga gawang moralitas dalam segala aspek kehidupan umat, termasuk moralitas para penguasa. (QS 9:111-112).

Seharusnya jangan semua kaum mukmin berangkat bersama-sama: Dari setiap golongan sekelompok mereka ada yang tinggal untuk memperdalam ajaran agama dan memberi peringatan kepada golongannya bila sudah kembali, supaya mereka dapat menjaga diri. (QS 9:122).

Kata ulul amri terdapat dalam surat An-Nisa` berikut.
Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulullah dan mereka yang memegang kekuasaan di antara kamu. Jika kamu berselisih mengenai sesuatu kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, kalau kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Itulah yang terbaik dan penyelesaian yang tepat. (QS 4:59).

Jagalah lima hal seperti yang diungkap diawal tulisan ini, agar dunia semakin indah, cerah dan bahagia dalam melakukan ibadah kepada Allah swt, Wallahu a’lam. (Polewali, 18 Desember 2019).**

Penulis : Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pokjawas Madrasah Kemenag Polman/Muballigh)

Acc/Editor by Inmas Kemenag Polman (Ahmad F.)


Download File : 5-Golongan-yang-Dikhawatirkan-Meninggal-Suul-Khotimah.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan