PAHLAWAN DAN KEPAHLAWANAN, PENEGAK MORALITAS
Catatan Kecil di Hari Pahlawan Oleh: Abdul Rahman Arok

By Administrator 10 Nov 2020, 04:29:37 WIB | dibaca 298 kali Opini
PAHLAWAN DAN KEPAHLAWANAN, PENEGAK MORALITAS

Setiap Tanggal 10 November, kita diingatkan pada satu peristiwa heroik demi mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejarahnya bermula dari peristiwa 10 November 1945. Merangkum dari beberapa sumber, disebutkan Pada saat itu terjadi sebuah pertempuran antara militer Indonesia dengan tentara dari Inggris dan Belanda di Surabaya. Pertempuran itu menewaskan setidaknya 6.000 sampai 16.000 pejuang Indonesia. Karena banyaknya pejuang yang tewas hari itu, maka ditetapkanlah 10 November sebagai hari nasional yaitu Hari Pahlawan, melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Menurut sumber lainnya, Setiap diperingati Hari Pahlawan, kenangan kita akan kembali kepada deretan nama-nama Pahlawan Nasional yang telah gugur dalam perjuangan meraih Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Namun sejatinya ciri dan karakter untuk menjadi ‘pahlawan’ bisa dan sangat mungkin dilakukan oleh siapa saja. Bukan saja pada jaman perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga di era milenial ini, boleh jadi banyak pahlawan bertebaran.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘pahlawan’ di definisikan sebagai orang yang berjuang dengan gagah berani dalam ‘membela kebenaran’ "Pahlawan" adalah sebuah kata benda. Secara etimologi kata "pahlawan" berasal dari bahasa Sansekerta "phala", yang bermakna hasil atau buah. Dalam bahasa Inggeris disebut ‘hero’. Jadi, Pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.

Dalam Al Qur’an, sebagaimana dikutip dari smartblock istilah yang digunakan untuk para pembela kebenaran digunakan kata ‘Rajul’. Secara bahasa rajul berarti seorang laki-laki. Bentuk ganda dari rajul adalah rajula-ni, sedang bentuk jamaknya adalah rijal. Para rijal ini ada pada setiap zaman, baik setelah Rasulullah Muhammad SAW diutus, maupun pada ummat-ummat terdahulu.

Beberapa ciri dan karakter pahlawan atau rijal menurut Al-Quran antara lain disebutkan (1) Menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah (untuk berjihad di jalan Allah). (Baca QS. Al Ahzab [33]: 23). (2) Mendukung kebenaran, dan berani mengingatkan penguasa tiran. (QS. Al Mu’min [40]: 28). (3) Takut kepada Allah, dan mengingatkan kaumnya untuk berjihad di jalan Allah. (QS. Al Maidah [5]: 23). (4) Para rijal senantiasa mengingat Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka tidak dilalaikan oleh perniagaan dunia. (QS. An Nur [24]: 37). (5) Mensucikan diri dan memakmurkan masjid.(QS. At Taubah [9]: 108). (6) Memberikan saran yang baik kepada utusan Allah demi tegaknya agama Allah. (QS. Al Qashash [28]: 20). Dan (7) Mengingatkan kaumnya untuk mengikuti agama Allah(QS. Yasin [36]: 20).

Kepahlawanan adalah sifat yang melekat pada pahlawan. Di antaranya, keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan. Seorang pahlawan itu, gagah berani, perkasa, rela berkorban dan kesatria. Sifat sejati pahalawan digambarkan dalam kata-kata bijak  tokoh dunia seperti “Dalam hidup nyata dan dalam perjuangan yang tak mudah, kita bukan tokoh dongeng dan mitos yang gagah berani dan penuh sifat kepahlawanan”. Demikian KH. Abdurrahman Wahid (mantan Presiden RI) kata bijak yang kedua diungkapkan oleh William Shakerpeare menyebutkan bahwa “Kemurahan hati adalah lambang kepahlawanan sejati”.

Sedangkan  “Hambatan terbesar untuk menjadi seorang pahlawan adalah keraguan apakah seseorang akan membuktikan dirinya bodoh, kepahlawanan yang sesungguhnya adalah melawan keraguan tersebut; dan kebijaksanaan terdalam, mengetahui kapan keraguan itu harus dilawan, kapan harus diikuti. Demikian Nathaniel Hawthorne. Presiden Pertama RI, Ir Soekarno menyebut “Dan mereka yang dilahirkan dalam Abad Revolusi kemanusiaan ini  terpikat oleh suatu kewajiban untu menjalankan tugas-tugas kepahlawanan.

Allah Swt sangat menghargai mereka (baca pahlawan) yang rela berkorban dengan harta dan nyawa meraka, untuk kepentingan Negara dengan agama, sehingga Allah menjanjikan surga sebagai balasan dari pengorbanan mereka, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Q.S. At-Taubah: 41)

Pahlawan adalah penegak moralitas yang perlu kesabaran. Sabar adalah penentu kemenangan bagi seorang pahlawan, ia bagaikan segelas jamu yang terasa pahit, tetapi justru dengan kepahitan itu akan menghasilkan kesembuhan yang rasanya lebih manis daripada madu.

Kesabaran ibarat wanita yang melahirkan banyak sifat lainnya. Dari kesabaranlah lahir sifat santun. Dari kesabaran pula lahir kelembutan. Bukan hanya itu, kemampuan menjaga rahasia juga lahir dari lahir kesabaran. Demikianlah pula berturut-turut lahir kesungguhan, kesinambungan dalam bekerja, dan yang mungkin sangat penting adalah ketenangan. Kepahlawanan hakiki harus diikuti dengan moralitas dan kesabaran yang tinggi.

Manding, 9 November 2020
ARTIKEL INI DITULIS DARI BERBAGAI SUMBER
*) Penulis adalah ASN Kemenag Polewali Mandar, Pengawas Muda dari jajaran Pokjawas Madrasah Kemenag Polman, Pengasuh TPQ Al Kafiy Lampoko Barat Kec. Campalagian.

Download File : SAMPUL_HARI_PAHLAWAN.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan