Menyembelih Ego
Oleh Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pokjawas KanKemenag Polman)

By Administrator 16 Des 2019, 05:55:17 WIB | dibaca 648 kali Opini
Menyembelih Ego

Menyembeli ego yang menjadi judul tulisan ini adalah upaya mendulang makna dari kebiasaan ummat Islam menyembelih hewan qurban. Meski ibadah qurban, limit waktunya hanya pada tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah setiap tahun, tapi makna dan hakikat ibadah qurban itu hendaknya terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Maka menyembelih ego salah satu makna menyembelih hewan yang menjadi kajian dalam tulisan ini.

Perintah Allah Swt. Tentang Qurban ini merupakan napak tilas sejarah yang dialami Nabi Ibrahim as. QS Assaffat ayat 102 Allah berfirman yang artinya “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Dialog antara ayah dan anak, hamba-hamba pilihan Allah swt. Ibrahim menyembelih putranya yang kemudian digantikan oleh Allah dengan seekor kibas (sejenis kambing).

Pakar tafsir kontemporer, Abdullah Yusuf Ali dalam “The Holy Qur’an; Translation and Commentary”, menjelaskan bahwa ibadah kurban memiliki makna spiritual dan dampak sosial. Secara vertikal, ibadah ini lebih merupakan ungkapan syukur, maka bacaan takbir justru lebih penting dari prosesi penyembelihan itu sendiri. Artinya, karena kurban itu merupakan manifestasi keimanan seseorang, bukanlah wujud kurbannya lebih dipentingkan, melainkan nilai dan motivasi orang itu menjalankannya. Hewan yang disembelih bukan berarti tumbal kepada sang khaliq. Yang dipersembahkan kepada Allah, esensinya hanyalah ketakwaan; lan yanalallah luhumuha wala dimauha, walakin lanaluhu al taqwa.....”, tegas-Nya.

Sedangkan secara horizontal, berkurban merupakan bagian dari upaya menumbuhkan kepekaan sosial terhadap sesama manusia khususnya kepada golongan yang lemah atau mereka yang dilemahkan (baca; dizalimi) dan tertindas. Ibadah kurban pun mengajarkan kepada manusia utuk rela berkorban demi kepentingan yang lebih universal, baik kepentingan agama, negara, maupun kemanusiaan. Dengan kata lain, kurban juga menjadi ungkapan kasih sayang, cinta dan simpati mereka yang berpunya kepada kaum papa. daging kurban dinikmati bersama baik oleh orang yang berkurban maupun orang-orang miskin di sekitarnya.

Imam Al Ghazali jauh-jauh hari telah mengingatkan kita bahwa penyembelihan hewan kurban menyimbolkan penyembelihan sifat-sifat kehewanan manusia. Berkurban itu bukan hanya sebatas seekor kambing, sapi, kerbau atau unta semata. Tetapi yang lebih penting adalah mengorbankan dan menyembelih hawa nafsu kehewanan yang membelenggu setiap manusia; nafsu serakah, sifat kikir, ego, dan nafsu menerabas yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan personal maupun komunal.

Ibadah qurban yang selalu ditandai dengan penyembelihan binatang. Awalnya perintah kepada Nabi Ibrahim as, untuk menyembelih putranya, Ismail as sebagaimana yang penulis kutip di awal tulisan ini, ketika hendak menyembelih putranya, kemudian Allah swt menggantinya dengan seekor kibas. Sebuah pertanda bahwa dalam kehidupan di dunia ini tidak boleh mengorbankan orang lain. Baik mengorbankan raga, jiwa bahkan tidak boleh mengorbankan perasaan orang lain. Kemudian digantikan dengan binatang yang bermakna manusia harus berkorban dengan menyembelih sifat kebinatangan, termasuk ego salah satu sifat binatang yang menggerogoti jiwa manusia. Maka sembelihlah ego untuk menuju hakikat manusia paripurna di hadapan Allah SWT.

Berkurban juga semestinya bisa mempertajam kepekaan dan tanggungjawab sosial. Dengan menyisihkan sebagian pendapatan untuk berkurban, diharapkan timbul rasa kebersamaan di masyarakat sehingga bisa menggalang solidaritas, kesetiakawanan sosial dan introspeksi diri untuk kemaslahatan bersama. Semoga kita mampu melawan setan dan hawa nafsu yang hadir lewat iming-iming harta dan kekuasaan dengan menyembelih semua sifat kehewanan kita selama ini berupa ego dan kerakusan pribadi maupun kelompok, guna menggalang solidaritas sosial dan membebaskan daerah kita ini dari belenggu kemiskinan dan keterpurukan.

Kita menjadi senang dan bangga setiap tahun setiap istansi yang mayoritas muslim melakukan penyembelihan hewan qurban. Termasuk istansi Kantor Kemenag Polewali Mandar. Sebuah tanda kesyukuran kepada Allah Swt, jika berqurban itu senantiasa didawamkan. Namun terkadang muncul kekecewaan ketika implementasi nilai berqurban itu tidak dapat dijabarkan dalam kehidupan. Misalnya di antara ASN masih merasa lebih dari staf yang lain, sehingga dengan mudah membully teman, menganggap sepele orang lain, menciptakan kebencian terhadap orang lain. Prilaku demikian jauh dari nilai berqurban yang seharusnya dapat menyembelih sifat egoisme yang masih menyelimuti raga kita. Dengan menyembelih ego, kita berharap kemenag sebagai cerminan akhlak dapat kita wujudkan, wallahu a’lam bissawab. (Polewali Mandar, 15 Desember 2019).

Penulis: Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I (Wasekret Pokjawas Madrasah Kemenag Polman).

Acc/Editor by Inmas Kemenag Polman (Ahmad F)


Download File : ego-as-baggage.png



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan