Manusia Bumi dan Revolusi Industri
Oleh Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pokjawas KanKemenag Polman)

By Administrator 12 Des 2019, 20:28:25 WIB | dibaca 514 kali Opini
Manusia Bumi dan Revolusi Industri

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna karena dilengkapi dengan akal pikiran. QS. At-Tin ayat 4 Allah Swt menyatakan, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Manusia memiliki tubuh yang indah, lengkap dengan fungsi-fungsinya, raga yang kuat , otak yang bisa berpikir secara jauh dan tajam, sifat dan karakter yang bermacam ragam. Manusia juga disebut sempurna karena segala rasa yang ada dimilikinya. Mungkin makhluk lain yang juga memiliki rasa tidak bisa merasakan kesempurnaan rasa seperti yang ada pada manusia.

Manusia di ciptakan dengan berbagai rasa dan perasaan. Rasa bahagia, senang, sedih, marah, benci, kasih, sayang, dan segala rasa yang tidak bisa di ungkapkan. Selain itu manusia juga sempurna karena memiliki rasa malu yang tidak dimiliki makhluk lain. Sehingga semua hal yang kita ketahui dalam dunia ini, manusia lah yang memiliki segala macam hal paling lengkap. Bahkan manusia disebut sempurna juga karena bisa melakukan banyak hal, bukan hanya kebaikan saja yang mampu dilakukannya namun keburukan dan kejahatanpun bisa dilakukan. Hal-hal seperti inilah yang melengkapi manusia sehingga disebut sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Karena manusia diciptakan sebagai makhluk paling sempurna, maka manusia mengemban amanah sebagai Khalifah Tuhan di muka bumi ini. Dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30, Allah swt berfirman yang artinya: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah di muka bumi. Mereka (malaikat) berkata, apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu? Tuhan berfirman, sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Betapa eloknya penuturan Allah dalam ayat tersebut, di mana Ia menggunakan metode qishshah atau berkisah yang mencerminkan keindahan sastranya yang jujur, suatu cerita yang tidak dibuat-buat sebagaimana karya fiksi, melainkan demi penyampaian kebenaran yang kokoh. Pesan sentral yang terkandung dalam ayat di atas ialah maklumat diangkatnya manusia oleh Allah sebagai Khalifah di muka bumi ini; yaitu ditetapkannya manusia sebagai pemakmur, pengatur dan pengelola sistem kehidupan di panggung dunia ini. Supaya tercipta kehidupan yang harmonis, damai, tentram dan sejahtera serta memperoleh kebahagian hidup di dunia hingga akhirat.

Pada ayat di atas Allah memberitau kepada malaikat bahwa akan diciptakan makhluk bernama manusia yang akan diangkat menjadi khalifah, mereka para malaikat balik bertanya sembari mengira bahwa makhluk manusia ini diprediksi kelak akan membuat kerusakan, kekacauan dan saling menumpahkan darah. Rupanya Malaikat beranggapan bahwa alam dunia hanya dibangun dengan tasbih dan tahmid saja, sebagaimana yang telah mereka perankan kala itu.

Menjawab pertanyaan mereka Allah menjawab dengan singkat tanpa membenarkan ataupun menyalahkannya, karena memang akan ada di antara yang diciptakannya itu yang berbuat seperti apa yang diduga malaikat. Allah menjawab singkat:" Sesunggunya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Ternyata didaulatnya manusia menjadi khalifah tidak melulu dibekali oleh kemampuan intlektual semata, tapi supaya benar-benar mampu mengemban tanggungjawab kepemimpinanya di dunia ini dan agar semua kelebihan yang dimiliki manusia tidak digunakan untuk hal-hal yang bersifat merusak dan negatif seperti yang diperkirakan malaikat, maka manusia diikat, dikontrak secara tauhid oleh Allah melalui kesediaan manusia menerima amanah, tanggung jawab ketika mahkluk lain, langit, bumi, gunung dan sungai-sungai menolak amanah yang berat ini (baca QS. Al Ahzab ayat 72).

Sebagai khalifah, wakil Tuhan dalam mengelola bumi, hal yang tidak luput dalam pengelolaan manusia adalah adanya revolusi industri 4.0. dari berbagai pendapat ahli jaman now ini, revolusi industri adalah suatu zaman yang dilalui manusia yang melibatkan pekerjaan dengan menggunakan sains dan teknologi. Revolusi industri dapat mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental.  Menurut presiden RI, Joko Widodo, bahwa revolusi industri mendorong inovasi-inovasi teknologi yang memberikan dampak disrupsi atau perubahan fundamental pada kehidupan manusia.

Bukti nyata dalam kehidupan ini bahwa segala aktivitas manusia dikendalikan oleh teknologi, internet, android dan semacamnya. Di era revolusi industri, penggunaan teknologi modern bahkan dapat menghilangkan jenis pekerjaan lainnya. Contoh, tahun 90-an manusia dibelahan bumi ini masih menggunakan Surat untuk berkomunikasi jarak jauh. Pegawai Kantor Pos saat itu sangat bergengsi. Tetapi setelah muncul internet, maka mengirim surat tidak lagi melalui kantor pos, melainkan melalui surat elektronik, email. Bahkan komunikasi jaman now, era revolusi industri ini melalui media sosial.

Salah satu contoh revolusi industri dan dampaknya di Indonesia adalah adanya ojek online versus ojek pangkalan. Dampaknya, publik lebih mudah mendapatkan layanan transfortasi. Bisnis online menjadi suatu trend yang mengasyikkan. Berdagang melalui media sosial sangat banyak. Mau makan saat sibuk di kantor tinggal pesan lalu diantar. Gojek, greb dan sejenisnya adalah layanan untuk memudahkan bagi masyarakat di era revolusi industri.

Namun di antara masalah yang muncul adalah, terjadinya keterrgantungan manusia kepada teknologi. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa bahkan kakek nenek, mengalami ketergantungan pada android. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Nokia pada tahun 2014 terdapat temuan yang mengejutkan, di Inggeris 1.500 responden menghabiskan waktunya dengan menjalankan media sosial dalam 62 juta jam perhari. Nah kalau di Indonesia, bahkan di Polewali Mandar, tanpa disurvey pun sudah dapat diprediksi tingkat ketergantungan manusia terhadap teknologi yang bernama ponsel smart dan lain-lain.

Facebook, Twitter dan media sosial lainnya bukan hanya untuk mengerjakan hal-hal yang tak berguna tiada manfaatnya seperti mengerumpi tanpa batas, menggunjing aib orang lain, memposting foto narsisnya, membuang waktu dengan bermain game dan lain sebagainya. Kegiatan macam ini jelas kontra produktif dengan maksud tujuan diciptakanya alat-alat teknologi komunikasi ini. Siapa yang terlena pada alat-alat sarana ini sembari lupa akan maksud tujuannya dia bagaikan orang yang sibuk memakai helm tapi tak mengendarai motor. Atau laksana membangun garasi mewah tapi tak punya mobilnya.  

Bagaimanapun manusia selaku khalifah Tuhan sangat perlu dan membutuhkan semua kecanggihan teknologi dan penemuan mutakhir ilmu pengetahuan dan sains demi mencapai keberhasilan dalam menjaga, mengurus, merumat dan mengeramut alam yang kita diami ini, selagi manusia yang memakainya masih berpedoman pada etika dan moral agama. Toh jika ternyata ilmu pengetahuan dan produk teknologi tersebut ternyata mengakibatkan ekses-ekses negatif dan merusak, itu bukan salah alat-alat teknologinya, tapi manusia penggunanyalah yang error, bermental biadab, barbar, lantaran jauh dari pedoman etika dan moral tuntunan agama. Wallahu a’lam bissawab. Manding, 12 Desember 2019.**

Penulis : Abdul Rahman Arok, Wasekret Pokjawas Madrasah Kantor Kemenag Polman.

Acc/Editor by Inmas Kemenag Polman (Ahmad F).


Download File : main-qimg-6c2e40196a58713d661a3a4387cfcb931.png



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan