LITERASI PEMUDA CINTA MENULIS (Siswi Madrasah Lahirkan Antologi Puisi)
Oleh : Abdul Rahman Arok

By Administrator 29 Okt 2020, 17:30:33 WIB | dibaca 319 kali Opini
LITERASI PEMUDA CINTA MENULIS (Siswi Madrasah Lahirkan Antologi Puisi)

Moment 92 tahun Sumpah Pemuda (1928-2020), dua siswi berhasilkan melahirkan sebuah karya berupa Antologi puisi berjudul “Ketika Hatiku Berkarya”. Kedua siswi tersebut adalah Haryani Latip dan Eliana Latip. Keduanya adalah putri bersaudara, anak dari ayah yang bernama Latip dan ibu yang bernama Baharia. Salah satu dari penulis muda tersebut adalah Siswi pada MA Izzatul Maarif Tappina Kec. Binuang yakni Haryani Latip, sedang sang adik Eliana, siswi pada SMK Negeri Paku Kec. Binuang

Antologi Ketika Hatiku Berkarya merupakan buku pertama yang sempat diterbitkan. Afdal Syarif Ketua Pokjawas Madrasah sempat membaca buku tersebut memberi apresiasi dan menyemangati agar kedua penulis muda tersebut tetap melanjutkan kiprahnya. Abdul Rahman Arok selaku kurator bukunya mengundang kedua anak tersebut menerima buku dan sertifikat penulis di ruang Pokjawas. Buku dan sertifikat yang dikirim dari penerbit Insan Cendekia Mandiri Sumatera Barat Indonesia. Turut hadir dalam penyerahan buku tersebut Rahmatiah, S.Pd.I selaku Sponsor dan Muhammad Ishaq, S.Pd.I Kepala MI DDI Tandakan sebagai wali dari kedua siswi tersebut

Bertepatan hari Sumpah Pemuda, buku setebal 96 halaman itu mulai diincar pembaca. Sehingga harus dilakukan cetak ulang. Demikian informasi Haryani dan Eliana kepada penulis yang sejak pengumpulan puisinya senantiasa mendampingi walau melalui daring (WA). Penulis berharap pemerhati literasi dapat memberi motivasi kepada dua penulis muda tersebut agar tetap berkarya. Termasuk motivasi dari pihak madrasah tempat keduanya menuntut ilmu. Lebih khusus kepada Yayasan Pendidikan Izzatul Maarif, Kepala MA Izzatul Maarif untuk dapat mengapresiasi karya siswinya yang tengah menuntut ilmu di Kelas X tersebut

Saat ini, moment maulid mengingatkan kita pada sosok Nabi Muhammad saw. Beliau adalah nabi yang mengemban amanh sebagai rahmatan lil’aalamin. Untuk mencapai visi dan misis sebagai rahmatan lil’alamin, nabi yang agung ini diberi media berupa literasi. Perhatikanlah tugas pertama beliau, seperti uraian penulis dalam artikel beberapa waktu lalu, pentingnya literasi. Perintah pertama yang turun dari langit untuk manusia melalui Malaikat Jibril as, kepada Nabi Muhammad SAW adalah Literasi. Simak QS. Al- Alaq ayat 1-5 sebagai berikut: 1/Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2/Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3/ Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4/Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. 5/ Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Bacalah, perintah yang tertuang dalam ayat 1 dan 3 kemudian dilengkapi penyataan pada ayat 4 yang memuat makna mengajar dengan pena (menulis). Jadi perintah Allah swt yang pertama adalah literasi (tulis-baca) agar  dapat menjalankan tugas manusia sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi (QS. Al-Baqarah ayat 30) dansebagaihamba yang mengabdi (QS. Az-Zariyatayat 56)

Literasi menjadi istilah yang sangat familiar saatini. Banyak penggiat literasi yang mulai memajukan gagasannya. Mengumpulkan  buku, menyediakan wadah tempat membaca bahkan berkeliling kampung mengedarkan buku untuk dibaca oleh masyarakat. Wadahnya pun unik-unik seperti di Sulawesi Barat ada ‘perahu pustaka’, bendi pustaka, sepeda pustaka, dan lain-lain.

Buku adalah salah satu pendukung utama kegiatan literasi. Bung Hatta sang proklamator bangsa Indonesia yang juga mantan wakil presiden pertama menyatakan “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Adam Malik yang juga mantan Wakil Presiden Republik Indonesia menyatakan bahwa “Buku adalah sahabat dalam suka dan duka” sedangkan Tan Malaka salah seorang tokoh besar pergerakan Indonesia pernah berujar “Selama toko buku ada, selama itu pustaka dapat dibentuk kembali kalau perlu dan memang perlu pakaian dan makanan dikurangi”

Nah, di akhir tulisan ini, penulis ingin mengingatkan kepada pembaca bahwa literasi itu penting. Membaca dan menulis. Banyak orang penting di negeri ini, terus maju dan berkembang karena menulis dan tetap menulis. Sejarah Sumpah pemuda sampai pada kita karena ditulis. Kisah teladan nabi Muhammad saw, yang maulidnya hari ini, kita tahu karena ada yang menyulisnya. Maka menulislah karena menulis itu akan meninggalkan jejak, minimal jejak sebagai penulis yang akan terbaca pada generasi mendatang. Wallahu’alam bissawab (Lampoko, 29 Oktober 2020, 12 Rabiul Awal 1442 H)

Penulis adalah Pengawas Madrasah Kemenag Polman, Penulis/Kurator Buku Ketika Hatiku Berkarya, tinggal di Lampoko/Manding Polewali Mandar.

 

 


Download File : 339e2227-986c-44e4-b00f-8d3ca646cf06.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 4 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan