Fakta Ketidak-Adilan Manusia (Sebuah Tinjauan Filosofis)
Oleh: Burhanuddin Hamal (Penyuluh Agama Islam / ASN Kemenag Polman)

By Administrator 14 Des 2019, 20:31:51 WIB | dibaca 776 kali Opini
Fakta Ketidak-Adilan Manusia (Sebuah Tinjauan Filosofis)

Diantara hal yang penting dikritisi pada kehidupan umumnya manusia adalah ketidak-adilannya dalam melakukan perawatan bersinergi antara pentingnya kesehatan fisik (lahiriyah) dengan kesehatan psikis (bathiniyah). Fakta membuktikan, rajinnya manusia memeriksakan unsur-unsur kesehatan fisiknya ke dokter terlihat tidak sama tekunnya mengevaluasi kesehatan iman dan hatinya dari waktu ke waktu.

Soal ketidak-normalan kolesterol, tensi darah, gejala asam urat, dan sebagainya biasanya langsung membuat kita cemas, tanggap dan sesegera-mungkin fokus mengkonsultasikannya ke dokter specialis secara berkala. Sisi lain, soal Iman stabil atau tidak bahkan "menurun" sekalipun biasanya kita tak cepat tanggap, santai dan kurang peduli bahkan diam-diam sengaja mengabaikannya. Tidakkah hal ini mestinya pula mendapat perhatian yang sama bahkan serutin mungkin patut dikonsultasikan dengan cara belajar pada ahli-ahli agama, kalangan Ulama bahkan intensnya kepada Tuhan sendiri (muhasabatun-nafs)?

Fenomena ini terjadi karena persoalan Iman (dimensi batin manusia) belum serius kita anggap sebagai sesuatu yang vital. Bahkan seringkali pun kita tidak pentingkan termasuk saat kondisinya mengalami "gangguan" yang itupun boleh jadi tidak kita sadari didalam carut marutnya dinamika kultur kehidupan. Bila kita mau jujur seharusnya kita konsisten pada urgensi pesan Nabi didalam Haditnya yaitu "Dalam tubuh manusia ada sesuatu yang meskipun bentuknya kecil tetapi ia adalah rahasia kehidupan yang pengaruhnya sangat berarti. Bila sesuatu itu baik maka akan baiklah seluruh aktivitas lahiriyah manusia tetapi jika tidak maka akan buruk pula seluruh rangkaian kehidupan tubuh manusia. SESUATU yang dimaksud itu tak lain adalah hati manusia" dimana keberadaannya membutuhkan perawatan yang intensif sepanjang waktu.

Pada muatan Hadits lain, Nabi juga menekankan bahwa ternyata prioritas hati manusia lebih dulu dinilai oleh Tuhan kemudian amal perbuatannya. Ini menandakan bahwa baik-buruknya amal perbuatan manusia (tataran lahiriyah) bergantung pada sugesti Iman dan kualitas hatinya (tataran bathiniyah).

Tidak berimbangnya perhatian manusia dalam melakukan perawatan serius terhadap kedua dimensi kesehatan dirinya menjadi fakta dari sebuah ketidak-adilan. Dengan demikian, filosofi cinta terhadap kehidupan diri seperti ini bukan hanya sifatnya tidak utuh tetapi juga beralasan untuk diragukan.

Di dalam QS. Al-Anfal: 1-4 tertera 5 indikator yang bisa menjadi alat ukur untuk mendeteksi mutu dan tingkat kesehatan batin seorang hamba Tuhan dalam mengarungi kehidupan. Rincian indikator tersebut menyebutkan "Sesungguhnya tanda-tanda orang beriman (yang bathinnya sehat) adalah(1) apabila dirinya mengingat Allah maka BERGETARLAH HATINYA, (2) Ketika dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya maka SEMAKIN BERTAMBAHLAH IMANNYA, (3) BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH, (4) MENDIRIKAN SHALAT, (5) MENGINFAKKAN SEBAGIAN REZEKINYA KE JALAN TUHAN. Mereka itulah yang benar-benar beriman, mereka akan memperoleh ketinggian detajat di sisi Tuhannya, ampunan serta limpahan kemuliaan rezeki".

Pertanyaannya adalah apakah sederet indikator tersebut telah ataukah belum pernah terjadi pada kenyataan naturalnya diri kita? Hal yang tak kalah pentingnya direnungkan adalah bagaimana mungkin hati akan bisa "bergetar" sedang untuk belajar mengingat Allah saja kita mungkin jarang melakukannya? Bagaimana bisa kesadaran Iman akan bertambah dari waktu ke waktu sedang betapa malasnya diri kita membaca dan mempelajari ayat-ayat-Nya (Qur'aniyah maupun Kauniyah)? maka dengan tidak bertambahnya atau makin melemahnya Iman dalam segmen-segmen kehidupan jelas menggiring kita pada kegagalan mendirikan shalat dan tak termotivasi melakukan amalan-amalan saleh (dalam bentuk apapun).

Ahirnya, meski kondisi Iman itu "keluar masuk" seperti hembusan nafas manusia, namun semoga Tuhan selalu menganugerahi kita kesehatan RAGA dan ROHANI yg seimbang agar capaian MANISNYA IMAN sebagaimana yang dijanjikan menjadi kenyataan....Wallahu a'lam.**

Penulis : Burhanuddin Hamal (ASN Kemenag Polman/Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kec. Limboro)

Acc/Editor by Inmas Kemenag Polman (Ahmad F)


Download File : ketidakadilan.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan