Arah Masjid (Sebuah Tinjauan Filosofis)
Oleh: Burhanuddin Hamal (Penyuluh Agama Islam / ASN Kemenag Polman)

By Administrator 14 Des 2019, 07:25:06 WIB | dibaca 486 kali Opini
Arah Masjid (Sebuah Tinjauan Filosofis)

Banyak makna positif yang muncul terkait dengan kata Masjid, misalnya makna keta'atan, kesucian, kebenaran dan kemuliaan. Sebagai yang juga disebut "rumah Tuhan" maka fungsi Masjid merupakan sarana tempat menemukan kesejukan, kedamaian, ketegaran dan harapan serta pencerahan-pencerahan kesadaran lainnya yang tak lepas dari sisi lahir dan batin manusia. Ini tentu menyangkut relasi keberadaan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan juga hubungan manusia dengan sesamanya.

Dengan begitu, manusia seharusnya memposisikan konsepsi Masjid (tatanan nilai-nilai sujud) sebagai terminal evaluasi dan motivasi terkait bagaimana ia menghadapi realitas kehidupan.

Banyak Masjid yang arah fisiknya benar menghadap Kiblat tapi tak kalah banyaknya oknum pelaku-pelaku shalat di Masjid yang kenyataan perilaku dan sikapnya justru meleset dari arah kebenaran.

Lirik syair lokal pun berkata "allo wongi Puang dirappe...sae tomi disenga'...kasi'na ta'lalona towandi pallino-linoang matttarra'i pa'elo'....balala pai dita moppo'na turalloa anna rupa gau' iyya sisarung nyawa paccinna masigi" (siang malam nama Tuhan kita sebut...lama sudah keberadaan-Nya bersemayam dalam harapan...tetapi sayang, liarnya nafsu-nafsu Duniawi makin maksimal pula bertengger bahkan mendominasi ruang selera...terlihat masih langka ditemukan sosok yang mampu menghadirkan nilai -nilai Masjid atau implementasi sujudnya dalam realitas tutur dan warna perilaku).

Kebanyakan kita mungkin merasa diri beragama karena tak lagi pernah melewatkan rutinitas 5 waktu di Masjid, tetapi kenyataan diri di luar Masjid justru mengebiri makna dan nilai-nilai keta'atan ritual yang siang malam kita peragakan. Mungkinkah ini yang disebut "sambayang tammalla'bang di kalepunna alawe" (penghambaan yang tak secara utuh menyatu dengan kesadaran dan realitas diri)?

Berapa banyak diantara kita yang kelihatannya rajin dan mampu memaksimalkan sujud-sujud formilnya di dalam Masjid tetapi tidakkah menjadi "bumerang" juga saat aktivitas-aktivitas sosialnya tak memberi warna dan nilai-nilai diri yang bersinergi?.

Andai diriku belum bisa merdeka dari kesenangan menipu demi kepentingan-kepentingan semu, menghianati kepercayaan, mengambil yang bukan hak serta sesatnya perilaku masih menjadi selubung realitasku maka kemanakah sesungguhnya arah Masjidku menghadap? Mungkinkah diriku telah melakukan sembahyang di Masjid yang arah Kiblatnya sudah kuanggap benar padahal filosofi "kubahnya" justru terbalik (membelakangi Tuhan)?...Wallahu a'lam.**

Penulis : Burhanuddin Hamal (ASN Kemenag Polman/Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kec. Limboro)

Acc/Editor by Inmas Kemenag Polman (Ahmad F)


Download File : kiblat_20170602_075630.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan