SANTRI SEHAT INDONESIA KUAT (Catatan Kecil Dalam Menghadapi Hari Santri)
Oleh : Ilham Sopu, SS

By Administrator 21 Okt 2020, 22:17:07 WIB | dibaca 150 kali Opini
SANTRI SEHAT INDONESIA KUAT (Catatan Kecil Dalam Menghadapi Hari Santri)

Judul diatas adalah tema hari santri tahun ini, tema ini sangat relevan untuk dibincangkan karena santri itu punya kontribusi yang besar terhadap kelahiran negara kesatuan republik Indonesia. Eksistensi santri sangat menentukan lahirnya Negara kesatuan Republik Indonesia kedepan. Para pendiri bangsa adalah kebanyakan berasal dari santri dan punya wawasan kebangsaan yang luas. Rumusan Pancasila yang menjadi dasar negara tidak terlepas tokoh-tokoh bangsa yang berlatar belakang santri, ketika sila pertama dari Pancasila dalam rumusan piagam Jakarta ada anak kalimat "Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya", oleh tokoh-tokoh santri disepakati supaya dihilangkan sehingga menjadi Ketuhanan yang Maha Esa. Ini suatu prestasi kebangsaan yang sangat luar biasa.

Pemikiran-pemikiran para pendiri Bangsa adalah sangat maju, demi untuk eksistensi Bangsa Indonesia kedepan yang baru saja diproklamirkan. Seandainya para tokoh bangsa pada waktu itu dari kalangan Islam tidak mengakomodir usulan supaya kalimat yang dianggap diskriminatif bagi golongan diluar Islam, mungkin Indonesia tidak seperti sekarang ini. Para pendiri bangsa sudah sangat maju dalam pemikiran dan mampu membaca Indonesia kedepan. Bahwa Indonesia yang sangat pluralistik dari segi etnis, agama, budaya, bahasa, adalah suatu kekayaan yang sangat luar biasa yang harus dijaga oleh para generasi penerus bangsa. Itulah warisan yang telah diwariskan oleh tokoh bangsa.

Warisan pemikiran  yang telah ditinggalkan oleh para pendiri bangsa yang merupakan dasar negara dan pandangan hidup Bangsa adalah modal yang sanga besar bagi Bangsa Indonesia. Aset ini adalah sangat berharga untuk bagi kelanjutan Indonesia kedepan, rumusan para pendiri bangsa adalah rumusun yang sangat pas untuk menjaga Indonesia dari keterpecahan. Dalam proses perumusan dasar negara pada awalnya telah terjadi perdebatan yang sangat sengit antara golongan  Nasionalis religius yang banyak diwakilih oleh para santri yang berpikiran moderat dan golongan yang ingin memperjuangkan Indonesia sebagai Negara Islam. Namun argumentasi yang dicoba ditawarkan oleh tokoh tokoh Islam yang berwawasan moderat yang banyak diwakilih oleh para santri sangat cocok untuk diterapkan di Indonesia yang berbinneka.

Dengan berkaca kepada para tokoh bangsa yang telah memberikan kontribusi pemikiran kebangsaan yang besar bagi bangsa Indonesia. Para santri di era sekarang hendaklah mencoba untuk mengadopsi pemikiran-pemikiran para pendiri bangsa yang punya wawasan keagamaan dan keindonesiaan yang luas. Kedua wawasan ini perlu dipadukan untuk menjaga Indonesia yang plural ini. Wawasan keagamaan tanpa wawasan kebangsaan kita akan mudah mengalami disintegrasi bangsa. Kita bisa menengok bagaimana Nabi dalam membangun kota Madinah sebagai sebuah Negara sangat terbuka dengan golongan-golongan yang lai untuk menyatukan kepentingan bersama untuk kemajuan Negara Madinah kedepan.

Disini Nabi mencoba untuk memadukan wawasan keagamaan dengan wawasan kebangsaan sehingga dapat menyatukan antara berbagai etnis, suku, kabilah,dan agama di Medinah. Itu jugalah yang dicoba ditawarkan oleh para pemikir Indonesia era 80an sampai sekarang, seperti pemikiran Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gusdur, Nurcholish Madjid,Ahmad Syafii Maarif yang mencoba untuk memberikan landasan pemikiran kebangsaan terhadap Negara Indonesia yang mayoritas Islam. Para santri perlu untuk melanjutkan pemikiran-pemikiran para founding fathers yang telah mewariskan pemikiran yang brilian untuk kepentingan Indonesia kedepan. Disamping memiliki wawasan kebangsaan yang baik, santri wajib memiliki pemikiran yang moderat, seperti ulama-ulama pondok pesantren yang sudah sangat matang dalam membaca kitab-kitab klasik dan kontemporer.

Dengan banyak membaca kitab-kitab klasik dipadu dengan kitab-kitab kontemporer kita akan terbiasa dengan pemikiran-pemikiran klasik yang begitu berharga yang harus dimiliki oleh seorang santri, santri yang mengusai kitab-kitab klasik itu akan eksis dalam menjawab tantangan zaman disamping harus tetap mengakses kitab-kitab kontemporer. Itulah sebabnya dalam dunia pesantren sangat terkenal adagium "Al-Muhafadzatuh al-qadimil salih wal akhzu bil jadil al aslah", memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. Simbol inilah yang terus dijaga dalam dunia pesantren sehingga pesantren dapat tetap eksis sampai sekarang.

Salah satu pemikiran yang sangat moderat dan maju pernah disampaikan ulama-ulama dari pesantren tradisional, pernah suatu ketika ada orang bertanya kepada dua orang Kyai pesantren yang agak berbeda pandangan, mungkin kalau dalam pemahaman sekarang yakni pemahaman tekstual dan kontekstual, orang ini bertanya Kyai pertama, pertanyaannya adalah bahwa mereka ingin mengadakan ibadah qurban satu ekor sapi untuk satu keluarga yang terdiri dari tujuh orang ditambah satu orang anak kecil, Kyai pertama menjawab bahwa tidak bisa karena tujuh orang itu untuk satu ekor sapi, anak kecil tidak bisa masuk. Kemudian orang ini pindah ke Kyai yang kedua dengan pertanyaan yang sama, Kyai yang kedua ini menjawab boleh, tapi hendaklah ditambah satu ekor kambing untuk dipakai anak kecil sebagai tangga untuk naik keatas sapi.

Dua pemahaman diatas adalah dua duanya benar, yang satu memakai pendekatan tekstual dan yang satu memakai pendekatan kontekstual. Santri harus menguasai kedua pendekatan ini, pendekatan tekstual penting untuk melatih santri dalam penguasaan terhadap ilmu-ilmu kebahasaan yang punya berbagai cabang. Dan pendekatan kontekstual melatih santri dalam berfikir yang lebih maju. Pemahaman seperti ini pernah terjadi  dizaman Nabi. Ketika Nabi akan mengutus para sahabatnya ke perkampungan bani Quraidhah, Nabi berpesan agar janganlah shalat ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah, dalam perjalanan, waktu asar hampir habis, disinilah para sahabat berbeda pendapat, ada yang shalat asar karena waktu asar hampir habis sementara mereka belum shalat, sebagian sahabat tidak shalat karena merujuk ke perkataan Nabi supaya salat asar di perkampungan Bani Quraidhah, mereka memaknai perkataan Nabi, salat asar di bani Quraidzah sekalipun waktunya sudah habis.

Itulah bekal yang harus dimiliki oleh para santri dalam mencoba memahami wawasan keislaman, mereka tidak hanya punya bekal ilmu-ilmu alat yang agak tekstual tetapi harus di perluas dengan wawasan keagamaan yang kontekstual. Ini sangat terkait dengan tema hari santri tahun ini yaitu Santri sehat Indonesia kuat, sehat disini bukan hanya sehat secara badani saja tetapi sehat secara pemikiran, santri harus memiliki pemikiran yang moderat seperti yang dimiliki oleh para pendiri bangsa, punya wawasan kebangsaan dan wawasan keagamaan yang luas, tidak mudah menyalahkan atau mengkafirkan pemikiran-pemikiran yang dianggap bertentangan dengan pendapatnya. Itulah yang dimaksud dengan santri sehat yakni sehat secara pemikiran,punya pemikiran yang sehat.

Dengan wawasan kebangsaan dan wawasan keagamaan yang luas adalah mutlak harus dimiliki seorang santri guna menciptakan Indonesian yang kuat kedepan, yang punya kapasitas keilmuan yang kuat dan punya kapasitas moral yang tak tergoyahkan dalam menghadapi tantangan global yang begitu kuat.  (Bumi Pambusuang, 20 Oktober 2020).


Download File : SAMPUL_ILHMA_SOPU.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan