PHUBBING...???
Oleh Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pokjawas KanKemenag Polman)

By Administrator 28 Apr 2020, 18:33:44 WIB | dibaca 4686 kali Opini
PHUBBING...???

Saat melakukan social distanching dan perintah atasan untuk work from home karena darurat pandemic covid 19, penulis membuka-buka WAG. Banyak informasi yang tetuang disana. Apalagi penulis aktif di grup online. Banyak WAG tempat penulis menuangkan inspirasi, gabung dengan sasterawan sekelas Asrizal Nur, mendapat bimbingan menulis artikel, puisi dan pantun. Di grup facebook seperti Teras Puisi yang digawangi sasterawan dari dosen pada perguruan tinggi ternama dan di telegram gabung di GGDN (Grup Guru Dahsyat Nusantara) yang menggelar banyak diklat online. Saat membuka Whatssapp Grup (WAG) Pendidik Hebat, penulis terhenti sejenak membaca postingan yang berjudul “Jauhi Phubbing”. Sejurus pertanyaan seketika membuncah dalam benak, apakah yang dimaksud dengan phubbing?.

Memastikan bahwa kosa kata ini bukan hoaks, penulis berselancar ke dunia maya bersama Mbah Google yang serba tahu. Dalam mesin pencarian banyak sekali topic yang ditulis seputar phubbing. Phubbing ternyata sudah lama viral, penulis saja yang masih “kamseupay”. Padahal tanpa sepengetahuan penulis, dunia maya pun telah menyeret Penulis sebagai lakon dari prilaku phubbing. Dan lambat laun dunia jaman mutaakhir ini melibatkan semua usia masuk dalam lingkungan phubbing.

Bertambah penasaran, penulis terus mencari makna phubbing. Dan salah satu informasi dari penelusuran itu, penulis menemukan bahwa “Phubbing adalah sebuah istilah untuk tindakan acuh seseorang di dalam sebuah lingkungan, karena lebih fokus pada gadget dari pada membangun sebuah percakapan. Istilah ini mulai booming seiring dengan smartphone yang mudah di dapatkan akhir-akhir ini”.

Nah, penulis dan pembaca punya gadget khan. Sudah pasti pernah melakukan tindakan antisosial yang bernama phubbing ini. Penulis termenung dan melakukan perenungan bahwa tindakan phubbing sebenarnya sudah menggerogoti jiwa para pengguna smartphone. Selama ini kita terlena dengan kemudahan yang ditawarkan oleh gadget. Bahkan corona si covid 19 yang datang bagai komandan serdadu menghendaki penggunaan smartphone dalam berbagai lini kehidupan. Phubbing melahirkan sikap ananiyah daripada sikap social. Meski namanya social media, tetapi ia telah menghancurkan tatanan kehidupan social dalam dunia nyata Kebosanan seseorang saat berbincang tatap mata dan beralih berbincang dengan orang lain via smartphone dinamakan Phubbing, yang merupakan kependekan dari Phone Snubbing.

Asal Mula Istilah phubbing yang kembali viral ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak kelahiran telepon genggam yang serba canggih, banyak orang yang sibuk sendiri dan tidak menghiraukan lawan bicaranya.  Dalam sepenggal artikel di WAG Pendidik Hebat tertulis “Delapan tahun silam, tepatnya pada bulan Mei 2012 para ahli bahasa, sosiolog, dan budayawan berkumpul di Sidney University. Hasil pertemuan tersebut melahirkan satu kata baru dalam tata bahasa Inggris.  Kata tersebut adalah phubbing. Yaitu sebuah tindakan seseorang yang sibuk sendiri dengan gadget di tangannya, sehingga ia tidak perhatian lagi kepada orang yang berada di dekatnya”.

Prilaku Phubbing ini sangat hebat. Hanya untuk mencari satu kata sampai-sampai para ahli harus bermusyawarah. Karena sudah menjadi fenomena yang sangat umum, dunia sampai memerlukan sebuah kata khusus untuk penyebutannya. Kini kata phubbing secara resmi sudah dimasukkan dalam kamus bahasa Inggris di berbagai negara.

Abdullah Khairil Fasal dalam tulisannya “Phubbing dalam Persfektif Islam” menyebutkan bahwa Phubbing dapat juga digambarkan sebagai individu yang melihat ponselnya saat berbicara dengan orang lain, sibuk dengan ponselnya dan mengabaikan komunikasi interpersonal. Seseorang dengan perilaku Phubbing memiliki indikasi menyakiti orang lain dengan cara pura-pura memperhatikan saat diajak berkomunikasi, tetapi pandangannya sebentar-sebentar tertuju pada ponsel yang ada di tangannya. Mereka yang sibuk dengan ponselnya seringkali berjibaku dengan hal yang maya, tidak nyata, bahkan terkadang tak bermanfaat. Sedangkan di hadapan ada yang lebih penting untuk dilakukan.

Prilaku ini sangat menyakitkan lawan bicara. Ketika sedang melakukan komunikasi dengan seseorang, komunikasinya di dunia nyata, tetapi focus perhatiannya di jendela di dunia maya. Selain menyakitkan, phubbing merupakan prilaku yang tidak mengikuti petunjuk Rasulullah Saw dalam berkomunikasi. Padahal Rasulullah sangat memperhatikan adab saat berbicara dengan orang lain. Dalam kitab Syamail Muhammadiyah, disebutkan Baginda Nabi saw selalu perhatian kepada lawan bicaranya. Bila ia tertawa maka Nabi ikut tertawa. Jika ia takjub terhadap apa yang sedang dibicarakan maka Nabi juga ikut takjub. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan “Dan Rasulullah tidak pernah memotong pembicaraan orang lain.” (Hadist Riwayat Tirmidzi).

Prilaku phubbing telah booming jauh sebelum covid 19 ini bertandang keliling dunia. Bahkan penulis termasuk para pembaca adalah member of phubber (pelaku setia phubbing). Beberapa di antaranya Misalnya saat berbicara dengan petugas teller di bank, tangan kita sambil memainkan gadget. Ketika menemani anak-anak mengerjakan tugas sekolah, setiap satu menit sekali kita melirik layar handphone kalau-kalau ada notifikasi yang masuk. Pada momen makan berdua di restoran dengan istri, hape diletakkan sedekat mungkin di sisi kita dan mampu menyelak obrolan apapun ketika ada suara pesan dari medsos. Ya...Kita sudah menjadi phubber sejati. (Kutipan dari WAG Pendidikan Hebat).

Fenomena phubing juga semakin merajalela dengan datangnya pendemi Covid 19. Aktifitas yang mengharuskan kita di rumah saja justru menjadi tidak produktif karena banyak anak, ayah dan ibu yang menghabiskan waktunya di depan layar gadget. Menyia-nyiakan waktu di bulan Ramadhan ini yang bukan dengan banyak ibadah dan meningkatkan keakraban keluarga, tapi malah asyik dengan gadget masing-masing.

Nah dalam pandangan Islam phubber adalah golongan orang yang lalai. Pada umumnya orang yang lalai akibat teknologi akan merusak psikologi dirinya sendiri.  membuat ia kecanduan dalam penggunaan teknologi informasi dengan fasilitas yang berkembang sehingga muncul dorongan kejahatan, masuknya nilai-nilai budaya asing yang negatif, hingga bisa mendorong tindakan konsumtif dan pemborosan. Dalam level terburuk, teknologi bisa menjadi alat untuk mendorong kekejaman dan kesadisan dan inilah yang disebutkan Allah Swt dalam Al-Qur’an yang artinya “Mereka Itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya Telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka Itulah orang-orang yang lalai”. (Q.S. An-Nahl:108).

Menurut Julie Hart, pakar hubungan sosial dari The Hart Centre, Australia, ada tiga faktor hubungan sosial yang menjadi tumpul karena phubbing. Pertama adalah akses informasi, di mana kemampuan mendengar dan membuka diri akan informasi dari lawan bicara. Kedua adalah respon, yakni usaha untuk memahami apa yang disampaikan lawan bicara dan mengerti maksud yang disampaikan. Ketiga adalah keterlibatan, yakni saat dua faktor sebelumnya diabaikan, seseorang tidak akan terlibat dari wacana yang dilontarkan dan hanya mengiyakan saja. Lawan bicara pun akan tersinggung dan yang terburuk malas bicara lagi.

Barulah penulis sadar bahwa phubbing merugikan diri sendiri. Mari kita benahi diri sendiri. Tidak berarti kita berhenti gunakan hape, tapi setidaknya kurangi phubbing sebisa mungkin. Hargai orang-orang di sekitar kita. Dan lebih penting lagi, kita teladani Rasulullah sebagai panutan kita. Jangan sampai handphone yang kita beli dengan keringat hasil usaha sendiri ini, justru memisahkan kita dengan orang-orang yang kita sayangi. Bahkan memisahkan kita dengan keteladanan Rasulullah saw. Selamat merenung sambil menjalankan ibadah Ramadhan 1441 dari rumah. Wallahu a’lam (Polewali Mandar, 27 April 2020).

Tulisan diramu dari berbagai sumber
Penulis : Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I. Wakil Sekretaris Pokjawas Madrasah Kantor Kemenag Polewali Mandar, pemerhati literasi dan Pembina TPQ Al Kafiy Desa Lampoko Campalagian Polman.

Acc/Admin : Ahmad Fakhruddin (Humas Kankemenag Polman)

 


Download File : IMG_20181008_093305.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan