PERAN SANTRI MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAN RI TAHUN 1945
Sebuah Catatan untuk Hari Santri Nasional Tahun 2020 Oleh Oleh: Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I

By Administrator 21 Okt 2020, 22:28:42 WIB | dibaca 152 kali Opini
PERAN SANTRI MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAN RI TAHUN 1945

Terhitung sejak tanggal 22 Oktober 2015 pemerintah Republik Indonesia menetapkan Hari Santri Nasional (HSN). Tanggal 22 Oktober 2020 bertepatan 5 Rabiul Awal 1441 H adalah peringatan HSN yang ke-6, secara nasional peringatan memilih tema “Santri Sehat Indonesia Kuat”. Rangkaian kegiatannya tidak sesemarak HSN tahun sebelumnya, namun demikian untuk menyemarakkan HSN tahun 2020 akan dilakukan Upacara Bendera yang dilaksanakan secara serentak pada tanggal 22 Oktober 2020. Kegiatan tersebut juga dipadukan dengan Dzikir, doa, salawat dan tausiah untuk mendoakan santri, masyarakat Indonesia dan dunia agar diberikan kesehatan dan kekuatan di masa pandemi COVID-19, demikian Panduan Peringatan Hari Santri 2020 yang dipublis oleh Direktorat Pendidikan Dinyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama.

Penetapan HSN merupakan implementasi pengakuan Pemerintah Republik Indonesia – yang saat penetapan HSN ini di bawah Pemerintahan Presiden Joko Widodo – atas peran besar umat Islam dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta menjaga NKRI. Selain itu, moment peringatan HSN dimaksudkan untuk mengingat dan meneladani semangat jihad para santri merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang digelorakan para ulama. Pemilihan tanggal 22 Oktober sebagai HSN merujuk pada peristiwa bersejarah tanggan 22 Oktober 1945 saat Pahlawan Nasional KH Hasjim As’ari membacakan seruan kepada  Umat Islam untuk berjuang (jihad) melawan tentara Sekutu yang ingin kembali menjajah Republik Indonesia.

Fatwa jihad tersebut seketika menggelorakan semangat juang rakyat Indonesia dari seluruh penjuru Tanah Air, untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Resolusi Jihad KH Hasyim Asy'ari mempunyai esensi bahwa berjuang mempertahankan kemerdekaan merupakan kewajiban agama. Pengakuan pemerintah terkait dengan sejarah tersebut diwujudkan dalam bentuk penetapan Hari Santri Nasional. Sebuah moment penting untuk mengenal sepak terjang santri dan umat Islam mewujudkan keyakinannya bahwa “Hubbul Wathan min al- Iman” Mencintai tanah Air bagian dari Iman.

Santri adalah miniatur ummat Islam yang turut andil dalam perjuangan merebut Kemerdekaan Republik Indonesia. Siapakah santri itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “Santri” setidaknya mengandung dua makna. Pertama, santri adalah orang yang mendalami agama Islam, kedua, santri adalah orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh. Santri selama ini digunakan untuk menyebut kaum atau orang-orang yang sedang atau pernah memperdalam ajaran agama Islam di pondok pesantren. (Iswara N Raditya, https://tirto.id/ej72)

Nurcholish Madjid dalam Buku “Modernisasi Pesantren, Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional” (Yasmadi, 2005) memiliki pandangan tentang makna santri. Pertama kata “santri” berasal dari bahasa Sangskerta “sastri” yang berarti melek huruf. Kedua, kata “Santri” dari bahasa Jawa “Cantrik” berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru ini pergi menetap.

Santri adalah siswa yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan ulama, yang dididik menjadi pengikut dan pelanjut ulama yang setia. Kehadiran santri dan pesantren dalam rangka pembagian tugas umat Islam. Hal tersebut merupakan pengejawantahan QS. At Taubah ayat 122 yang terjemahnya “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang) mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”

Dalam “Revitalisasi Karakter Santri di Era Milenial” Aris Adi Leksono, menyebut bahwa “santri” berasal dari bahasa Inggeris, SUN (Matahari) dan Three (tiga) menjadi tiga matahari. Maksud dari tiga matahari itu yaitu tiga keharusan yang harus dimiliki seorang santri yaitu, Iman, Islam dan Ihsan. Sedangkan dalam buku “Kiai juga manusia, Mengurai Plus Minus Pesantern” menurut KH Abdullah Dimyathy bahwa kata “Santri” dapat diurai dari hurufnya (empat huruf Arab yaitu, sin, nun, ta, dan ra). Huruf SIN merujuk pada Satrul aurah (menutup aurat), huruf NUN dari kata Naibul Ulama (Wakil Ulama), huruf TA dari kata Tarkul Maashi (meninggalkan mas’siat) dan huruf RA dari kata Raishul Ummah (Pemimpin Ummat). Sehingga eksistensi seorang santri adalah sosok yang selalu menutup aurat, wakil ulama, meninggalkan segala bentuk maksiat dan sebagai pemimpin ummat. Demikian antara lain makna kata santri itu

Peran Santri dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Keterlibatan Kiai, Ulama dan Santri dalam perjuangan tidak boleh dinafikan. Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan para Kiai dan Santri,  Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, rupanya bangsa penjajah tidak tinggal diam. Inggeris bergandengan dengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ingin kembali menguasai Indonesia yang telah diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945. Umat Islam tidak tinggal diam. Pendiri Nahdhatul Ulama Hadratus Syech KH. Hasyim As’ari bersama para kyai dan santri perwakilan NU di seluruh Jawa dan Madura menyerukan jihad melawan penjajah. Deklarasi itu terjadi pada tanggal 22 Oktober 1945. Belakangan deklarasi itu populer dengan istilah Fatwa Resolusi Jihad.

Selanjutnya setelah tanggal 22 Oktober 1945 para Kyai dan Santri mulai bergerak dan berdatangan ke Surabaya sebagai bentuk perlawanan terhadap pasukan Inggris dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang datang. Seruan jihad yang dikumandangankan dari masjid ke masjid, dari musholla ke musholla. Bung Tomo pada tanggal 24 Oktober 1945 berpidato di Radio berpesan kepada arek-arek Surabaya agar jangan berkompromi dengan sekutu yang akan datang ke Surabaya. Penyebaran Resolusi Jihad tersebut dengan suka cita disambut penduduk surabaya dengan berapi-api untuk melawan kembalinya penjajah.

Melalui Resolusi Jihad seruan perang suci yang diteriakkan untuk melawan penjajah yang ingin berkuasa kembali, yang membakar semangat Kiai dan Santri serta arek-arek Surabaya untuk menyerang Markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby pada tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945. Pada saat itu Jenderal Mallaby tewas bersama pasukannya. Akibat dari serangan 3 hari tersebut meletuslah perang 10 November 1945, peperangan sengit antara pasukan Inggris yang berhadapan dengan masyarakat pribumi yang didominasi oleh Kiai dan Santri. Ribuan Pahlawan gugur, darah berceceran di Surabaya dan perang sekitar 3 minggu tersebut di catat sebagai perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Peristiwa 10 November 1945 kemudian populer dengan sebutan Hari Pahlawan

Hari Santri Nasional, Sebuah Pengakuan

Pengakuan Pemerintah terhadap peran santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 2015 dengan menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Selanjutnya Hari Santri untuk pertama kalinya digelar pada tanggal 22 Oktober 2016 dengan tema “Dari Pesantren Untuk Indonesia”. Pada tanggal 22 Oktober 2017 peringatan Hari Santri memilih tema “Wajah Pesantren Wajah Indonesia”. Pada tanggal 22 Oktober 2018 perayaan Hari Santri Nasional dengan tema “Bersama santri damailah Negeri”. Pada tanggal 22 Oktober 2019, gelaran Hari Santri Nasional mengusung tema “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia” dan di tengah wabah COVID-19, 22 Oktober 2020, peringatan Hari santri Nasional mengusung tema “Santri Sehat Indonesia Kuat” (Sumber: Panduan Peringatan HSN, 2020)

Agenda tahunan sebagai wujud pengakuan terhadap peran serta santri dalam membangun dan mempertahankan NKRI tetap diselenggarakan. Sesuai dengan tema Santri Sehat Indonesia Kuat, seluruh rangkaian peringatan Hari Santri 2020 disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, mengedepankan prinsip-prinsip dan kehidmatan, dengan tetap berpedoman pada Protokol Kesehatan dalam rangka pengendalian dan pencegahan Covid-19

Salah satu dasar pemikiran peringatan hari santri tahun 2020 bahwa pengalaman terbaik, beberapa pesantren berhasil melakukan upaya pecegahan, pengendalian dan penanganan dampak Pandemi Covid-19 menjadi bukti bahwa pesantren memiliki kemampuan di tengah berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Pesantren memiliki modal tradisi kedisiplinan yang selama ini diajarkan kepada santri, keteladanan dan sikap kehati-hatian Kyai dan Pimpinan Pondok Pesantren yang mengutamakan keselamatan santrinya disbanding proses belajar di Pesantren.

Selamat Hari santri Nasional, 22 Oktober 2020, tetaplah istiqamah melanggengkan tradisi kedisplinan, disiplin berdamai dengan covid-19 agar santri dan seluruh umat tetap sehat, sebab “Santri Sehat, Indonesia Kuat”. Sehatkan jiwa raga, agar iman dan imun tetap prima. Tetap mendawamkan dzikir, doa, salawat dan tausiah untuk mendoakan santri, masyarakat Indonesia dan dunia agar diberikan anugrah kesehatan dan kekuatan di masa pandemic covid-19.

Polewali, 20 Oktober 2020

Penulis adalah ASN Kemenag Polman/Pengawas Madrasah Tsanawiyah lingkup Kemenag Polewali Mandar, Pembina Taman Pendidikan Al-Quran AL-Kafiy Desa Lampoko Kec. Campalagian Kabupaten Polewali Mandar


Download File : PAS_SAMPUL_RAHMAN_AROK.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan