Nafsu-Nafsu Pembatas (Tinjauan Filosofis)
Oleh: Burhanuddin Hamal (Penyuluh Agama Islam / ASN Kemenag Polman)

By Administrator 23 Des 2019, 08:16:18 WIB | dibaca 712 kali Opini
Nafsu-Nafsu Pembatas (Tinjauan Filosofis)

Satu diantara teori kearifan lokal menyebutkan bahwa "batas yang menjarakkan posisi hamba dari Tuhan adalah nafsu". Seorang hamba yang notabene juga manusia biasa pasti tak mudah membebaskan dirinya dari perbudakan hal-hal manusiawi yang tak lain bersumber dari hasutan-hasutan nafsu didalam dirinya sendiri.

Meski manusia hidup tak mungkin tanpa nafsu (keinginan secara umum) namun agama mengajarkan bahwa jangankan pada perkara-perkara haram, dalam hal-hal yang halal sekalipun mestinya terjadi pembelajaran positif yang berorientasi pada kemampuan mengendalikan ragamnya keinginan-keinginan manusiawi. Maka, sasaran inti dari amalan-amalan puasa (ritual wajib maupun sunnat) sesungguhnya bukan untuk "menghabisi" totalitas nafsu yang ada pada diri manusia melainkan terjadi penguasaan mutlak atas dominasi nafsu-nafsu yang dimaksud terutama yg berpotensi menjerumuskan manusia pada ranah keangkara-murkaan (QS. Shad: 26).

Diantara contohnya adalah agama memerintahkan manusia untuk berlaku adil (terhadap diri sendiri, sesama bahkan pada kenyataan alam). Pengaruh bawaan nafsu manusiawi seringkali menguasai manusia untuk meremehkan bahkan menafikan pentingnya "wujud keadilan", padahal sesungguhnya hal itu bisa mendekatkan dirinya pada maqam taqwa (QS. Al-Maidah: 8). Demikian pula, agama melarang manusia melakukan praktek-praktek kesombongan dalam segala kenis dan levelnya. Disamping sifat buruk yang satu ini dapat menggiring manusia pada aktivitas-aktivitas hidup yang melampaui batas karena telah melupakan posisi Tuhan, pun rusaknya mekanisme dan tatanan-tatanan kehidupan sosial pasti menjadi akibat yg tak terhindarkan (QS. Ar-Rum: 41).

Sisi berikutnya, ketika hidup manusia diperhadapkan pada situasi-situasi tertentu yang sifatnya "menggiurkan" (konsekuensi jabatan berupa kekuasaan atau wewenang apapun yang memberinya ruang dan kesempatan) maka nafsu-nafsu serakah seringkali bangkit dan gelisah bila tak bisa menggali keuntungan (dalam bentuk apapun) yang meski sifatnya "terlarang". Sebaliknya, tipikal "nafsul mthmainnah" atau level nafsu yang terlatih dalam kesadaran-kesadaran positif memandang pesona Dunia ini sebagai ujian yang "mendewasakan" dan yang tak perlu menyeretnya ke lembah kenistaan.

Meski tak harus membuang prinsip-prinsip optimisme namun dalam menggarap Dunia dan pesonanya pun tak kalah membutuhkan kejujuran, keihlasan dan ketegaran. Bukankah ia (Dunia) adalah amanah besar yang secara moral meminta pertanggung-jawaban vertikal dan horisontal dari kehidupan manusia?
Karena itu, manusia boleh saja menikmati fasilitas-fasilitas apapun yang mungkin membuatnya nyaman dalam kehidupan Duniawinya sepanjang tak bertentangan dengan mandat keberadaan dirinya dan tujuan hidup itu sendiri. Berenang di "tempat basah" sekalipun tak mesti membuat manusia hanyut apalagi tenggelam dalam arus yang menggores pencitraan .

Jika posisi Tuhan diibaratkan terdapat beberapa lapisan-lapisan cahaya suci dari keberadaan manusia maka analogi lapisan-lapisan itu tak lain adalah konsekuensi dari nafsu-nafsu pembatas yang harus dikendalikan manusia untuk bisa "sampai" kepada Tuhan.

Ahirnya, mungkinkah kita hidup dibawah kendali nafsu-nafsu serakah ataukah nafsu-nafsu yang menyesatkan itu tunduk dibawah kendali hidup kita?...Wallahu a'lam.**

Penulis : Burhanuddin Hamal (ASN Kemenag Polman / Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kec. Limboro)

Acc/Editor by Inmas Kemenag Polman (Ahmad F)


Download File : 15323591665b55f1feb3204.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan