NAFSU-NAFSU PEMBATAS
Oleh: Burhanuddin Hamal, S.Ag (Penyuluh Agama Islam Kec. Tinambung)

By Administrator 22 Jul 2020, 06:32:02 WIB | dibaca 175 kali Renungan
NAFSU-NAFSU PEMBATAS

Diantara statemen kearifan lokal menyebutkan bahwa "batas yang menjarakkan posisi hamba dari Tuhan adalah nafsu". Seorang hamba yang notabene manusia biasa pasti tak mudah membebaskan dirinya dari belenggu nafsu-nafsu manusiawi yang cenderung menguasai. 

Meski manusia hidup tak mungkin tanpa nafsu (keinginan secara umum), namun agama mengajarkan bahwa pengendalian atas semua itu merupakan keutamaan dalam menjalani kehidupan. Jangankan pada perkara-perkara haram, dalam persoalan halal pun mestinya terjadi pembelajaran positif yang berorientasi pada kemampuan mengendalikan ragamnya nafsu-nafsu manusiawi. 

Kehidupan manusia mestinya selektif dengan tidak mendasarkannya pada keinginan secara umum melainkan kebutuhan dalam prioritas. Maka, sasaran inti dari amalan puasa (wajib maupun sunnat) sesungguhnya bukan untuk "menghabisi" totalitas nafsu melainkan terjadi penguasaan mutlak atas dominasinya terutama yang berpotensi menjebak manusia pada kemaksiatan dan kebinasaan (QS. Shad: 26). 

Agama memerintahkan manusia untuk berlaku adil (baik terhadap diri sendiri, sesama bahkan pada kenyataan alam yang notabene merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia) dan itu adalah sebuah keniscayaan. Pengaruh bawaan nafsu manusiawi seringkali tampil menguasai dan menafikan pentingnya "wujud-wujud keadilan" tersebut padahal ending-nya bisa mendekatkan manusia pada maqam ketaqwaan (QS. Al-Maidah: 8). Begitu pula, agama melarang manusia melakukan praktek-praktek manipulasi, kecurangan bahkan kesombongan dalam semua jenis dan levelnya. Disamping hal-hal tersebut bisa menjerumuskan manusia dalam keburukan yang melampaui batas, pun rusaknya mekanisme semesta dan tatanan-tatanan kehidupan sosial menjadi akibat yg sulit dihindari (QS. Ar-Rum: 41). Tentu saja, egoisme dan arogansi mengambil peran utama di ranah ini.

Sisi berikutnya, ketika realitas hidup manusia berpacu dalam orientasi persaingan obsesi yang "menggiurkan" (apapun itu) maka nafsu-nafsu serakah tak jarang bangkit menggeliat, mengintai kesempatan bahkan melumat apapun tanpa sisa dan batasan etika. Sebaliknya, tipikal NAFSUL MUTHMAINNAH atau level kesadaran yang sudah terlatih dalam kendali-kendali esensi berpuasa memandang pesona Dunia ini sebagai ujian yang justru "mendewasakan" hingga tak perlu menyeretnya ke lembah nista dan kesesatan.

Meski tak harus membuang prinsip-prinsip optimisme, namun dalam menggarap potensi kehidupan Duniawi pun tak kalah membutuhkan keihlasan, kejujuran dan ketegaran. Bukankah ia (Dunia) adalah proyek besar yang di tataran vertikal maupun horisontal meminta pertanggung-jawaban moral dari keputusan sikap dan cara hidup manusia? 
Karena itu, manusia boleh saja menikmati fasilitas-fasilitas apapun yang mungkin membuatnya nyaman dalam kehidupan Duniawinya sepanjang tak mengingkari apa yang menjadi "kesepakatan" antara dirinya dengan Tuhan (tupoksi kekhalifahan) di awal sejarah.

Jika kemuliaan posisi Tuhan menyisakan batasan-batasan cahaya perantara dari keberadaan manusia maka itu merupakan konsekuensi dari kotornya pengelolaan nafsu-nafsu manusiawi yang justru penting dikendalikan oleh manusia dalam membangun jalan keridhaan menuju Tuhan.

Ahirnya, ketika agama mengisyaratkan hidup ini sebagai "perang internal" melawan diri sendiri maka pilihannya ada dua, yakni mungkinkah kita hidup dibawah kendali nafsu-nafsu serakah (pasrah dalam kekalahan) ataukah menggapai kemenangan dengan cara menundukkan nafsu-nafsu yang menyesatkan itu dibawah kendali diri kita?...Wallahu a'lam.


Download File : NAFSU_PEMBATAS.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan