MADZHAB PENYULUH
(Sebuah catatan kecil dalam pembentukan Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kab Polewali Mandar)

By Administrator 28 Sep 2020, 16:10:42 WIB | dibaca 125 kali Opini
MADZHAB PENYULUH

Islam adalah agama misi, agama yang harus didakwakan atau disebarkan dengan cara-cara yang hikmah, mauidzah hasanah dan argumentasi yang baik. Hirarkis penyebaran Islam ini bersumber dari AlQuran sekaligus suatu metode Yang dipergunakan oleh Nabi, baik ketika periode dakwah di Makkah yang berlangsung selama tiga belas tahun maupun periode Madinah yang berlangsung selama sepuluh tahun. Sekalipun ada perbedaan obyek dakwah yang dihadapi Nabi baik ketika di Makkah maupun pada saat di Medinah, namun metode dakwah Nabi tetap mengedepankan hikmak atau cara-cara bijak dan dilandasi dalil-dalil yang argumentatif. Metode ini bersifat universal dan tidak mengenal ruang dan waktu.

Bagaimanapun kerasnya obyek dakwah ketika Nabi berada di Makkah yaitu masyrakat Quraisy yang sangat feodalistik dan sukuistik serta sangat anti terhadap pembaharuan yang di bawa oleh Nabi. Dan intimidasi yang keras dilakukan terhadap Nabi dan para sahabatnya. Namun Nabi tetap konsisten dalam menjalankan perintah yang diterima dari Tuhan-Nya. Tetap melanjutkan misi kenabian beramar ma'ruf dan bernahi munkar dengan pendekatan hikmah kebijaksanaan dan dengan argumentasi yang kuat. Begitupun ketika Nabi berada di Madinah sebagai daerah pluralistik atau majemuk segi suku, etnis, budaya dan agama, Nabi tetap konsisten menyampaikan misi dari Tuhannya dengan pendekatan-pendekatan humanis yang tidak terlepas dari nilai-nilai ketuhanan atau nilai-nilai tauhid.

Dengan mengacu kepada sejarah perjalanan hidup Nabi dalam menjalankan misi dakwahnya baik ketika berada di Makkah maupun waktu berada di Medinah, ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi generasi hari ini untuk menyampaikan misi kemanusiaan yaitu bagaimana menciptakan suasana damai dipermukaan bumi lewat ajaran-ajaran yang diwariskan oleh Nabi, khususnya dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang humanis. Salah satu pesan keagamaan mengatakan bahwa "Ulama adalah pewaris para Nabi", ulama adalah pelanjut misi kenabian, para ulama ini adalah corong untuk menyaimpakan ajaran-ajaran keagamaan dengan pendekatan hikmah kebijaksanaan dan punya kapasitas keilmuan sebagai dalil argumentatif dalam menyampaikan kebenaran.

Penyuluh agama sebagai garda terdepan dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan ditengah masyarakat perlu memperkuat pemahaman keagamaannya dengan banyak belajar tentang sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad saw sebagai rujukan sentral dalam menjawab persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat. Pengetahuan tentang metode Nabi dalam berkiprah di tengah-tengah umat adalah modal yang sangat berharga sebagai amunisi untuk menjawab persoalan-persoalan umat yang timbul dalam masyarakat. Keberhasilan Nabi dalam dakwahnya itu tidak terlepas dari konsistennya dalam berpegang kepada ajaran-ajaran ketuhanan dan pribadi Nabi yang begitu Agung atau punya akhlak sangat baik.

Oleh sebab itu, ada dua modal utama yang harus ada pada penyuluh agama yaitu warisan keilmuan dan warisan akhlak. Perintah Tuhan kepada Muhammad dalam surah al alaq adalah rujukan yang tidak pernah basi dalam meningkatkan kualitas keilmuan, perintah beriqra' adalah perintah yang sangat jelas. Perintah yang diulang-ulangi oleh Malaikat Jibril kepada Muhammad, artinya bahwa di awal kenabian Muhammad hal yang pertama yang harus mendapat prioritas utama sebelum memberikan pencerahan kepada umat adalah mengisi diri dengan berbagai keilmuan, perintah membaca yang diulang-ulang Jibril adalah isyarat untuk kita untuk banyak membaca. Buya Syafii Maarif pernah mengatakan bahwa dua fakultas yang membuat majunya suatu peradaban yaitu fakultas fikir dan fakultas dzikir. Dua peradaban yang tahan bantingan sejarah. Selama peradaban dibangun diatas kedua fakultas ini, peradaban itu akan bertahan. Peradaban inilah yang menjadi jurus utama Nabi dalam membangun masyarakat madani atau masyarakat yang berkeadaban.

Seorang penyuluh semestinya  punya referensi bacaan yang banyak supaya tidak kaku dalam menghadapi masyarakat. Semakin banyak bacaan tentunya akan menambah kecerdasan, baik kecerdasan intelektual, spritual, maupun kecerdasan emosional. Tiga kecerdasan yang terdapat dalam surah al alaq, yaitu ketika disuruh beriqra' disitu nampak kecerdasan intelektual tetapi setelah disambung  dengan bismirabbik mulailah terintegrasi dengan kecerdasan  spiritual, dengan terus menerus menambah bacaan dibutuhkan suatu kesabaran di situlah akan melahirkan kecerdasan emosional. Inilah modal yang sangat berharga yang harus dimiliki oleh seorang penyuluh, yakni modal bacaan dari situ lahir kecerdasan dalam membaca masyarakat. Tugas kepenyuluhan adalah merupakan tugas kenabian yang cukup berat, Nabi itu adalah seorang penyuluh tulen, bekal Nabi dalam memberikan penyuluhan kepada umatnya adalah modal iqra' yang Ia terima di gua hira.

Hikmah yang terjadi di gua hira adalah merupakan pelajaran penting dalam meningkatkan kualitas kepenyuluhan yakni mencoba menginternalisasi filsafat iqra dalam dirinya. Itulah modal pertama yang harus terintegrasi dalam diri seorang penyuluh yakni modal keilmuan. Kemudian modal kedua yang harus terintegrasi dalam diri seorang penyuluh adalah integritas akhlak. Prof Quraish Shihab, dalam satu pernyataanya mengatakan, kita kagum kepada Muhammad saw dengan kekaguman yang berganda yakni kagum terhadap ajaran yang dia bawa dan kagum terhadap akhlaknya. Disamping aspek keilmuan yang membawa Nabi berhasil dalam tugasnya sebagai rasul, juga aspek akhlak yang sangat menonjol dalam diri Nabi, bahkan Tuhan memuji Nabi yang mempunyai akhlak yang agung, "Innaka la alaa khuluqin adzim". Akhlak inilah yang banyak hilang dari kita, betapa banyaknya orang orang yang berilmu tapi minus akhlak, bahkan salah satu buku Prof Quraish diberi judul, "Yang hilang dari kita adalah akhlak".

Dalam intern umat Islam perbedaan madzhab pemikiran kadang menjadi bencana buat kita. Mungkin kita dalam belajar agama kita terlalu berorientasi fiqhiyyah minus tasauf sehingga mudah menyalahkan orang yang berbeda dengan kita. Kita harus banyak belajar dari ulama-ulama dulu betapa sangat tingginya penghargaan antara ulama yang satu dengan ulama yang lain. Bahkan dalam konteks keindonesiaan Buya Hamka pernah menjadi Imam dibelakangnya ada ulama NU, Beliau pakai qunut padahal beliau seorang muhammadiyah, ketika ditanya kenapa beliau berqunut, beliau menjawab, saya menghargai orang yang ada dibelakang yang merupakan orang NU. Okeh sebab itu kita harus mengedepankan akhlak dalam mengimplementasikan ajaran-ajaran keagamaan.

Penyuluh agama sebagai corong kementerian agama dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan, punya peran yang sangat penting untuk mensosialisasikan visi misa kementerian agama khususnya dalam menyampaikan Islam wasatiyah atau Islam moderat yakni Islam yang menghargai perbedaan pendapat, Islam yang tasamuh, toleran, atau dalam bahasa Al Quran nya Islam yang rahmatan lil alamin. (Bumi Pambusuang, 26 September 2020).

Penulis :Ilham Sopu (Kepala Madrasah MA Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang)


Download File : FK_PAI_POLMAN.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan