Komunikasi Bersin
Oleh Ustd Ilham Sopu (ASN Kemenag Polman / Pembina Ponpes Nuhiyah Pambusuang)

By Administrator 09 Feb 2020, 05:22:01 WIB | dibaca 1073 kali Opini
Komunikasi Bersin

Judul diatas terinspirasi dari tulisan almarhum Fuad Rumi, seorang kolumnis harian Fajar yang sangat produktif,  tulisan tulisannya terbit setiap hari jumat dengan judul "gelitik", sesuai dengan judul kolomnya, tulisan tulisan Beliau betul betul sangat menggelitik, analisa analisanya sangat mendalam dan sesuai dengan perkembangan yang viral minggu itu. Latar belakang Pak Fuad, demikian panggilan kesehariannya adalah seorang sarjana teknik, tapi pengetahuannya dibidang keagamaan, utamanya analisa keagamaan sangat mencerahkan. Saya selalu mengkopi tulisan tulisan Beliau setiap hari jumat di perpustakaan kampus.

Ditahun 90 an,  para penulis, di harian fajar adalah para penulis senior dari berbagai perguruan tinggi, ada Dr Syuhudi Ismail, Prof Ahmad Ali, Ishak Ngeljaratan, Arsyal Al Habsyi, Rahman Arge, Nur Abdurrahman, dan Fuad Rumi. Mereka inilah yang mewarnai tulisan tulisan di kolom harian Fajar di era 90 an. Inilah salah satu yang membuat harian Fajar sangat digemari oleh pembacanya karena kualitas para kolumnisnya sangat luar biasa di bidangnya.

Salah satu yang paling menarik dan sangat kontekstual dalam tulisannya adalah Ir Fuad Rumi,  analisa dan pendekatan sosiologisnya sangat menyentuh nurani pembacanya. Pendekatan tekstual dan kontekstual dalam mengangkat suatu tema keagamaan dan di interpretasikan dalam kondisi kekinian sangat kental dalam tulisan tulisannya.

Bukan hanya kemahiran dalam menuangkan gagasan gagasannya dalam bentuk tulisan yang menyentuh kalbu kemanusiaan,  tapi juga sangat lihai dalam memberikan pemahaman dalam bentuk bahasa lisan. Gagasan gagasannya dalam bahasa lisan sangat argumentatif dan mudah di pahami oleh obyek dakwah. Bahasa dakwah billisan dan bahasa dakwah bil kitabah menyatuh dalam dirinya. Tulisan dan ceramahnya keduanya sangat argumentatif dan mudah dipahami baik ditingkat awam maupun didunia akademik.

Salah satu tulisannya yang sangat menginspirasi adalah  ketika mengupas komunikasi dalam Islam,  bahwa Islam itu adalah agama yang sangat mengedepankan aspek sosial, yakni agama yang sangat menjaga hubungan sosial atau interaksi dengan sesama manusia. Islam bukan hanya aspek vertikal yang harus dibangun, tetapi juga aspek horizontal atau hubungan sesama manusia. Beragama yang hanya mengedepankan satu aspek saja adalah beragama secara pincang, membangun hubungan kepada Tuhan dan mengabaikan aspek sosial kemasyarakatan adalah salah bentuk pendustaan terhadap agama. Itulah yang banyak membuat orang celaka dalam beragama, seperti yang diberitakan dalam surah Almaun.

Surah inilah yang menginspirasi KH Ahmad Dahlan dalam mendirikan Muhammadiyah,  dari surah Almaun, KH Ahmad Dahlan berhasil meletakkan cikal bakal gerakan amal usaha Muhammadiyah yang sangat dahsyat, mulai dari pendidikan yang begitu banyak di bangun di seluruh Indonesia dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, begitu juga dibidang kesehatan dan ekonomi, begitu banyak yang telah disumbangkan oleh Muhammadiyah untuk Indonesia.

Itu adalah hasil rintisan dari KH Ahmad Dahlan, yang awalnya adalah mencoba menafsirkan surah Almaun, kemudian lahirlah amal usaha yang begitu besar manfaatnya untuk bangsa. Begitulah ajaran Islam, antara aspek vertikal dan aspek horizontal keduanya harus menyatu, bahasa Tuhan yang bersifat melangit, hendaklah bisa diterjemahkan dalam bahasa manusia yang bersifat membumi. Disitulah peran kenabian, sebagai media perterjemahan dari bahasa langit yang sakral kedalam bahasa bumi yang profan.

Dalam Islam peran seperti itu diperankan oleh Nabi Muhammad. Bahasa Tuhan yang berasal dari yang mutlak dibawa oleh Jibril kepada Muhammad,  dan Muhammad kembali menerjemahkan bahasa Tuhan kedalam wilayah kemanusiaan.

Oleh sebab itu Nabi Muhammad sangat terkenal mempunyai perkataan yang singkat dan punya makna yang padat,  yang dalam istilah agama "Jamiul kalimi". Peran komunikasi dalam agama itu sangat penting,  seperti yang diperankan oleh Nabi, yaitu menerjemahkan bahasa Tuhan ke dalam bahasa manusia. Begitupun yang harus diperankan oleh para Dai dan Daiyah dalam menerjemahkan bahasa agama yang sakral yang berasal dari Tuhan dan Nabi, hendaklah bisa dielaborasi dalam bahasa yang mudah diterima oleh obyek dakwah.

Dibutuhkan suatu keterampilan dalam menyampaikan pesan pesan keagamaan sehingga masyarakat dapat menerima pesan tersebut dengan baik. Itulah sebabnya diperlukan suatu pemahaman  yang holistik terhadap ajaran agama. Bukan hanya pemahaman secara tekstual saja tetapi dibutuhkan pemahaman secara kontekstual, supaya agama tetap "salihun likulli zamanin wa makanin", cocok dengan kondisi zaman.

Proses penterjemahan dari bahasa Wahyu kedalam bahasa manusia itu sangat penting dimiliki oleh seorang tokoh agama atau penceramah seperti yang diperankan oleh Nabi. Di era modern sekarang kita membutuhkan pencerahan pencerahan dari seorang tokoh agama yang punya kapasitas moral yang baik dan mampu berkomunikasi dengan baik kepada masyarakat atau umat, artinya dia mampu menerjemahkan bahasa Wahyu dalam wilayah kemanusiaan.

Islam sangat mementingkan ajaran sosial,  agama sudah memberikan rambu rambu bagaimana menjalin hubungan komunikasi dengan sesama manusia. Ajaran ajaran tekstual dari agama hendaklah diupayakan untuk diimplementasikan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, salah satu ajaran yang dianggap sepele oleh sebagian umat islam terkait cikal bakal adanya komunikasi diantara dua pihak yang sebelumnya tidak saling kenal mengenal adalah ucapan ketika kita bersin. Fuad Rumi disalah satu tulisannya di harian Fajar mengupas tentang filsafat komunikasi bersin.

Diceritakan dalam suatu kendaraan umum ada beberapa orang yang tidak saling kenal mengenal. Tiba tiba salah seorang dari mereka "bersin" dan mengucapkan alhamdulillah, orang yang disampingnya mengucapkan, yarhamukallah, kemudian yang bersin tadi mengucapkan, yahdikumullah. Terlepas dari nilai nilai religius ucapan antara kedua belah pihak. Sesungguhnya itu adalah pengantar komunikasi antara kedua belah pihak. Begitulah ajaran agama, ada nilai eskatologis yang dikandung dalam ajaran agama, sekaligus ada nilai nilai sosial yang terkandung didalamnya seperti yang terkandung dalam filsafat bersin.

Disitulah letak keholistikan ajaran agama, semua ajaran agama yang diturunkan oleh Tuhan kepada manusia, disamping punya nilai ketuhanan juga mengandung nilai nilai kemanusiaan. Atau dalam bahasa salat,  ada aspek vertikal berupa ucapan Allahu Akbar dan aspek horizontal yang dilambangkan dalam ucapan salam.  (Bumi Pambusuang,  8 Pebruari 2020)**

Penulis : Ustd Ilham Sopu (ASN Kemenag Polman/Pembina Ponpes Nuhiyah Pambusuang)

Acc/Editor : Inmas Kemenag Polman (Ahmad F)


Download File : Subhanallah___-Dalam-Islam-Bersin-Itu-Suatu-Kenikmatan.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan