Islam Nabi, Islam Wasat
Oleh Ustd Ilham Sopu (ASN Kemenag Polman / Pembina Ponpes Nuhiyah Pambusuang)

By Administrator 26 Jan 2020, 10:46:17 WIB | dibaca 762 kali Opini
Islam Nabi, Islam Wasat

"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) "umat pertengahan " agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan)  manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.  (QS. 2.143).

Ada tiga agama yang diturunkan Tuhan kepada Nabinya, yang dalam istilah Ali Syariati, cendekiawan muslim asal Iran "agama Ibrahimik",karena ketiga agama ini berasal dari keturunan Nabi Ibrahim dari kedua istrinya Sarah dan St Hajar. Dari jalur st Sarah banyak lahir Nabi Nabi mulai dari Nabi Ishak sampai kepada Nabi Isa, dari jalur inilah lahir agama yahudi dan nasrani. Agama yahudi di bawa oleh Nabi Musa dengan kitabnya Taurat dan agama nasrani di bawa oleh Nabi Isa dengan kitabnya injil.

Kemudian dari jalur st Hajar hanya melahirkan dua orang Nabi yakni Ismail dan Muhammad. Pada prinsipnya ketiga agama Ibrahimik ini adalah membawa misi yang sama yakni misi tauhid, mengesakan Tuhan. Cuma dalam detail detail ajarannya, ada perbedaan dari ketiga agama ini. Agama yahudi yang di bawa oleh Nabi Musa lebberorientasi hukum, sangat formalistik dan kaku, itu karna umat Nabi Musa keras dan susah diatur, dan secara bahasa taurat itu berarti hukum. Sedangkan agama nasrani yang di bawa oleh Nabi Isa lebih berorientasi kasih sayang, ajaran kasih yang menjadi inti dari agama ini.

Sedangkan agama Islam yang di bawa oleh Muhammad mencoba menggabungkan antara orientasi hukum yang ada dalam agama yahudi dan orientasi kasih yang ada dalam agama nasrani. Itulah yang dalam bahasa Cak Nur panggilan akrab Nurcholish Madjid bahwa agama Islam ini adalah agama tengah, agama wasat, atau agama yang menyatukan antara sisi hukum agama yahudi dan sisi kemanusiaan dalam agama nasrani. Dan disitulah letak kesempurnaan agama Islam sebagai agama  pamungkas dari agama Ibrahimik.

Lalu apa yang menjadi karakter dari "Ummatan Wasatan" atau "umat tengah", sebagaimana maksud dari ayat diatas, dan Nabi menjadi saksi bahwa ummatan wasatan itu adalah masyarakat yang diperjuangkan oleh Nabi, baik ketika berada di Mekkah lebih lebih sewaktu berada di Medinah. Di ayat yang lain yang juga terdapat pada surah Al Baqarah ayat 151 - 152, "Sebagaimana kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat ayat kami, menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Quran) dan hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.  Maka ingatlah kepadaku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepadaku, dan janganlah kamu ingkar kepada-ku".

Salah satu cendekiawan muslim yang merupakan dosen UIN Sunan Kalijaga Yogya, Dr Hamim Ilyas, yang juga merupakan kader dari Muhammadiyah, mencoba memberikan interpretasi tentang karakter yang ada dalam ummatan wasatan, dengan mencoba mengurai ayat diatas. Yang pertama menjadi ciri khas dari ummatan wasatan adalah sifat "Pencerah", sebagai interpretasi dari potongan ayat "yatlu alaikum ayatina", bahwa peran Nabi Muhammad selama dalam tugas misinya adalah mencerahkan,  sebagai pencerah terhadap masyarakat disekitarnya. Nabi selalu aktif membacakan ayat ayat Tuhan terhadap masyarakat yang dia hadapi, baik terhadap kafir quraisy, lebih lebih terhadap para sahabatnya.

Yang kedua adalah "Bersih", Islam adalah agama yang sangat mengedepankan tentang kebersihan, teks teks keagamaan sangat banyak menyinggung tentang kebersihan. Namun kebersihan disini, bukan hanya kebersihan secara lahiri. Ayat dalam Qur'an yang berbicara tentang kebersihan lahir dan batin adalah "Bersihkanlah pakaianmu", disini ada dua penafsiran terhadap ayat ini, bisa dengan pendekatan fiqh formal, atau pendekatan tasauf atau batini. Penafsiran secara sisi dalam terhadap ayat ini adalah hendaklah kita membersihkan sifat sifat tercelah dalam diri kita, penyakit penyakit hati maupun pemikiran pemikiran yang kotor.

Yang ketiga dari karakter ummatan wasatan adalah Unggul, terinspirasi dari ayat "wayuallimukumul kitab", yang mengajarkan kepadamu Al Qur'an,  masyarakat arab sebelum munculnya Muhammad adalah masyarakat yang tertinggal jika dibandingkan dengan romawi dan persia, dua kerajaan yang paling berpengaruh pada waktu itu. Dengan kemunculan Muhammad di jazirah arab, Dia berhasil mengangkat masyarakat arab menjadi masyarakat yang unggul, masyarakat arab adalah masyarakat yang berperadaban tinggi, dengan AlQuran, Muhammad berhasil menciptakan suatu peradaban yang Agung dan sangat disegani  oleh persia dan romawi. Peradaban yang lahir dari rahim Al Qur'an adalah peradaban iman dan ilmu, yang oleh Buya Syafii Maarif kedua model peradaban tersebut adalah peradaban yang tahan bantingan sejarah. Itulah yang membuat unggul masyarakat pada masa Nabi sampai lima abad berikutnya.

Yang keempat adalah "Hikmah" atau walhikmah, bahwa ummatan wasatan adalah ummat yang mengedepankan kebijaksanaan dalam bertindak, dalam menyampaikan ajaran ajaran kebenaran selalu menggunakan pendekatan hikmah dan nasehat nasehat yang baik. Yang kelima adalah Berwawasan yang luas, dalam bahasa ayat diatas "wayuallimukum malam takunu ta'lamun", karakter ini sangat penting, karena inilah yang menjadi misi pertama dari umat Muhammad, keluasan wawasan tidak pernah terlepas dari hasil pembacaan terhadap ayat ayat qauliyah maupun ayat ayat kauniyah. Semakin tinggi bacaan seseorang, akan membuat dia semakin bijak dan tidak mudah menyalahkan dan mengafirkan kelompok kelompok yang akan menjadi lain. Demikian sebaliknya semakin rendah bacaan seseorang, dia akan semakin mudah menyalahkan kelompok yang lain, dan merasa kelompoknyalah yang paling benar.

Keenam adalah "Religius", yang merupakan terjemahan dari Padzkuruni adzkurkum, umat yang religius adalah umat yang banyak mengingat Tuhan. Manusia harus memanfaatkan potensi yang mereka miliki,  sebagai makhluk yang punya potensi keilahian, bila potensi potensi itu dikembangkan lewat ibadah ibadah yang diperintahkan oleh Tuhan, niscaya manusia akan menjadi makhluk yang religius, manusia yang dekat dengan Tuhan. Selanjutnya adalah "wasykuruli wala takfurun", bahwa umat wasatan itu adalah umat yang selalu bersyukur, kesyukuran bagi manusia adalah suatu keniscayaan. Salah satu bentuk kesyukuran bagi manusia adalah  memanfaatkan potensi yang kita miliki untuk kemaslahatan kemanusiaan. Ketika manusia gagal memanfaatkan potensi yang mereka miliki maka akan terjadi kekufuran.

Itulah beberapa karakter ummatan wasatan yang diperjuangkan oleh Nabi. Ini harus menjadi cita cita kita selaku umat Muhammad, sebagai referensi dalam membangun suatu peradaban yang unggul sebagaimana yang pernah di bangun oleh Nabi dalam membangun masyarakat makkah dan puncaknya ketika beliau berada di madinah. (Bumi Pambusuang, 26 Januari 2020).**

Penulis : Ustd Ilham Sopu (ASN Kemenag Polman/Pembina Ponpes Nuhiyah Pambusuang)

Acc/Editor : Humas Kemenag Polman (Ahmad F)


Download File : hqdefault(1).jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan