Implikasi Syahadat Dalam Kehidupan
Oleh Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pokjawas KanKemenag Polman)

By Administrator 16 Feb 2020, 11:10:15 WIB | dibaca 3585 kali Opini
Implikasi Syahadat Dalam Kehidupan

Syahadat adalah ucapan, janji dan komitmen awal sekaligus kunci pembuka bagi setiap orang yang ingin menyatakan dirinya muslim. Jika ada orang yang terpanggil hatinya untuk memeluk agama Islam, terlebih dahulu ia dituntun untuk mengucapkan dua kalimah syahadat : “Asyahadu anla ilaaha illallah, wa asyahadu anna muhammadan rasulullah” (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasulullah).

Ingin menjadi muslim? Maka bersyahadatlah. Ketika Rasulullah Saw, mengutus Muadz Bin Jabal ra ke Yaman, Rasulullah saw menyampaikan “Apabila engkau datang kepada mereka, ajaklah mereka untuk mempersaksikan bahwasanya tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah swt dan bahwasanya Muhammad itu adalah utusannya.

Dua kalimah syahadat adalah salah satu rukun dari lima rukun Islam. Selain sebagai rukun juga menjadi asaz dan inti utama aqidah Islam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Khattab ra, Rasulullah pernah ditanya oleh seseorang “Ya Muhammad, apakah Islam itu?” Nabi menjawab bahwa “Islam itu, engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah swt dan bahwasanya Muhammad itu utusan Allah swt, engkau menegakkan shalat, engkau mengeluarkan zakat, engkau berpuasa pada bulan Ramadhan dan engkau melaksanakan haji apabila mampu menjalankannya”.

Syahadat sebagai dua kalimah yang sakral, inti aqidah Islamiyah.  Dua kalimah yang terdiri dari syahadat tauhid dan syahadat  rasul. Syahadat Tauhid, tekanannya kepada tauhid (mengesakan Allah swt) dan syahadat Rasul tekanannya kepada nabi Muhammad saw. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah (syahadat tauhid) dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah (Syahadat Rasul).

Syahadat tauhid berlaku untuk semua nabi sejak Adam As. Utusan Allah dari Adam As hingga Muhammad saw, ajaran pokoknya adalah tauhidullah. Ayat yang terkait dengan tauhid ini, QS. Al-Anbiyaa ayat 25 menyatakan “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya bahwasanya tiada Tuhan selain aku, maka sembahlah aku. Syahadat kedua tekanannya pada Syariat Islam yang dibawa Muhammad SAW.

Implikasi syahadat dalam kehidupan artinya menjadikan syahadat itu sebagai penanda jati diri sebagai Islam. Kalimat Asyhadu yang bermakna  persaksian atau aku bersaksi. Kalimat persaksian ini sedikitnya bisa memiliki tiga makna yaitu pemberitahuan, sumpah dan janji.  Pertama syahadat bermakna I’lan artinya pemberitahuan atau proklamasi dengan penuh keyakinan bahwasanya Tiada Tuhan selain Allah Swt dan Muhammad itu utusan-Nya. Proklamasi yang mengandung suatu penegasan tentang jati diri sebagai muslim dan dituntut berprilaku sesuai tuntunan Allah swt dan Rasul-Nya.

Kedua, syahadat bermakna Al-Qasam artinya sumpah. Bersyahadat artinya bersumpah dengan penuh kesungguhan. Hal ini mengandung makna apa yang kita sumpah-kan itu adalah sesuatu yang kita yakini kebenarannya sekaligus mengandung konsekwensi tertentu yang harus kita pertanggungjawabkan. Sebab sumpah sebatas kata-kata mainan tetapi sumpah hendaknya dipertanggungjawabkan, ingkar terhadap sumpah resikonya adalah kafarat.

Ketiga, Syahadat bermakna al-wa’du artinya janji. Mengucapkan syahadat mengandung makna berjanji untuk mengikat diri mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Allah swt dan nabi Muhammad saw adalah utusan-Nya. Juga berjanji akan melaksanakan segala titah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya, sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Persaksian yang dilakukan oleh manusia sejak jaman roh. QS. Al-A’raf ayat 172 mengemukakan hal tersebut. Mari kita simak “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab “Betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya kami(bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).

(Materi khutbah yang disampaikan oleh penulis di Masjid Nur Marwah BTN Pesona Taman Marwah Kelurahan Manding, 14 Pebruari 2020, diadaptasi dari khutbah yang pernah penulis bacakan pada tanggal 22 Oktober 1993 di Masjid Besar Campalagian.**

Penulis: Abdul Rahman Arok adalah ASN Kemenag Kabupaten Polman/Wakil Sekretaris Pokjawas Madrasah).

Editor : Inmas Kemenag Polman (Ahmad F)


Download File : images+(4)1.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 4 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan