Ibadah Mahdhah Yang Pertama Dihisab
Oleh Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pokjawas KanKemenag Polman)

By Administrator 26 Jan 2020, 09:20:57 WIB | dibaca 9818 kali Opini
Ibadah Mahdhah Yang Pertama Dihisab

Dalam agama Islam yang kita anut, shalat adalah salah satu dari lima rukun Islam, juga shalat adalah ibadah yang sangat penting. Karena sangat penting, maka kita harus menata shalat, maksudnya, shalat dilaksanakan sesuai tata aturannya, shalat dilaksanakan sesuai tata waktunya.

Shalat adalah ibadah sebagai tanda kesyukuran kepada Allah swt. Karena Allah telah memberikan banyak anugrah, reseki dan lain sebagainya, Inna a’thaina kal kautsar, (sesungguhnya kami telah memberimu nikmay yang banyak) fashalli lirabbika wanhar (Maka shalatlah karena tuhanmu dan berkurbanlah).

Shalat adalah ibadah yang pertama dihisab pada hari pembalasan, Rasulullah Saw bersabda: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih}.

Kita mengenal salat wajib 5x sehari semalam, subuh, dhuhur, ashar, magrib dan Isya. Shalat merupakan salah satu ibadah mahdhah, ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah Swt, makna shalat adalah doa, atau menurut istilah, shalat adalah beberapa perkataan/ucapan, beberapa gerakan, yang diatur oleh syarat dan rukun, sebuah ibadah yang dimulai dengan takbir (Allahu Akbar), di akhiri dengan salam (Assalamu alaikum).

Shalat yang baik, adalah salat yang dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” QS. Al Angkabut ayat 45.

Agar shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, maka hakikat shalat dipraktekkan di luar shalat. Ini menunjukkan bahwa shalat memiliki dimensi social. Misalnya, duduk di antara dua sujud memuat delapan doa, permohonan kepada Allah, dan Allah Swt akan membalas permohonan itu bila diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

# Robbighfirlii Wahai Tuhan ampunilah dosaku, dosa adalah beban, yang menyebabkan kita berat melangkah menuju ke ridha. Dosa  adalah  kotoran hati yang mem-buat  hati  kelam,  sehingga  hati kita merasa  berat skali untuk melakukan kebaikan. Yakinkan dalam hati bahwa Allah akan mengabulkan doa tersebut bila kita mengampuni kesalahan orang lain.

# Warhamnii Sayangilah diriku, kalau kita disayang hidup akan terasa nyaman, karena dengan kasih sayang-Nya akan dapat dicapai semua cita-cita. Dengan kasih sayang nafsu kita akan terbimbing. Allah akan membalas doa tersebut jika kita mengasihi orang lain.

# Wajburnii Tutup lah  segala  kekuranganku, ba-nyak sekali kekurangan kita, kurang syukur,  kurang  sabar,  kurang  bisa menerima kenyataan, mudah marah, pendendam  dan  lainnya. Kalau ke-kurangan kita ditutup/diperbaiki ??????, maka  kita  akan  menjadi  manusia sebenarnya. Allah akan membalas doa ini, jika kita saling menutupi kekurangan.

# Warfa’nii Tinggikanlah derajatku, kalau sudah  meninggikan derajat kita, maka pasti  tidak  ada  manusia  yang bisa menghinakan kita. Allah swt akan mengabulkan doa ini bila kita saling menjaga martabat dan meninggikan derajat
# Warzuqnii Berikanlah  aku  rizki, sebagai hamba ?????? kita  membutuhkan rizki, ?????? mam-pu mendatangkan rizki dari arah yang tak terduga dan tanpa perhitungan. Allah suka bila manusia saling berbagi rezeki.

#Wahdini Berikanlah  aku petunjuk/bimbinglah aku  ke jalan kebahagiaan. Kita tidak hanya  minta petunjuk/hidayah yang berkaitan dengan agama. Tetapi kita juga  minta  petunjuk  agar terhindar dari  mengambil  keputusan  yang di anggap salah.  Allah swt akan menunjuki hamba-hamba-Nya yang saling menebar kebenaran melalui petunjuk-Nya.

# Wa’aafinii Berikan lah  aku  kesehatan,  apabila kita sehat, kita bisa menambah keba-ikan  dan  manfaat serta tak menjadi beban orang lain. Allah swt akan menebar kesehatan bagi hambanya yang saling menjaga keehatan.

# Wa’fuannii Aku mohon agar kesalahanku dihapus dari catatan. Allah swt akan mengampuni kesalahan jika kita saling mengampuni kesalahan
Demikian tulisan ringkas disadur dari Khutbah Jumat yang penulis sampaikan di Masjid Rauhatul Muqarrabin Lingkungan Jambu Tua Kelurahan Darma Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar, Jumat 24 Januai 2020.**

Penulis : Abdul Rahman Arok, khatib dan Wakil Sekretaris Pokjawas Madrasah Kemenag Polman.

Acc/Editor : Humas Kemenag Polman (Ahmad F).


Download File : 1580005157265823.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan