Evaluasi Diri Menengok Peta Perjalanan Hidup Manusia
Oleh Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pokjawas KanKemenag Polman)

By Administrator 24 Des 2019, 11:59:31 WIB | dibaca 8231 kali Opini
Evaluasi Diri Menengok Peta Perjalanan Hidup Manusia

Cuti bersama akhir tahun 2019 tanggal 24 Desember, cuti yang mengiringi libur natal tahun 2019. Libur dua hari kesempatan silaturahim dengan keluarga. Seperti yang penulis lakukan mengamini keinginan Orang tua (ibu mertua) untuk bertemu cucunya di Makassar. Mengemudi sendiri Polewali Barru lalu rehat di Barru kemudian paginya lanjut ke Makassar.

Tiba di Makassar, tepatnya di lorong sempit ujung jalan Nuri Lorong 100 Mariso. Bertutur puji hanya pada Ilahi atas perjalanan yang penulis tempuh hingga sampai di tempat tujuan, meski dengan bantuan smartpon melalui Google Mapnya. Saat Dhuha di Masjid… saya mencoba menyelami arti perjalanan hidup ini. Mengevaluasi diri, begitu kira-kira arah pikiran penulis yang akhirnya dituangkan sebagai judul artikel ini.

Penulis dalam renungan dhuha ini memulai bahwa manusia  ciptaan Allah swt, tanpa pernah mengajukan permohonan kepada sang pencipta dan kini berada di bumi yang indah ini Pernahkah kita mengajukan pertanyaan kepada diri kita (kepada pembaca sekalian). Dimanakah kita sebelum dilahirkan? Apa dan bagaimana kita selama di alam kandungan yang gulita itu? Bagaimanakah proses perjalanan yang melelahkan itu sehingga kita sampai ke dunia ini? Lantas apa tujuan kita hidup di dunia? Apa yang terjadi dengan umur kita yang semakin bertambah dan kian hari usia kita semakin berkurang? Setelah tutup usia, kemanakah kaki kita melangkah? Sekilas pertanyaan-pertanyaan tersebut terlihat biasa, namun pada hakikatnya sungguh luar biasa.

Sebab semua pertanyaan tersebut menyangkut proses perjalanan manusia, dari alam roh hingga alam yang kekal nan abadi yakni akhirat. Saat ini kita berada di alam Dunia, namun pernahkah kita sejenak merenungkan ini . . . .?

Peta perjalanan hidup manusia di dunia ini sudah amat jelas. Route perjalanan hidup setiap manusia, minimal harus menempuh lima pos. pos pertama manusia dikumpulkan di alam roh. Semua roh dikumpulkan dan diapel oleh Allah swt, mendapat pengarahan untuk melakukan perjalanan selanjutnya. Pos kedua, manusia dimasukkan di alam rahim. 

Semua manusia yang mendiami bumi ini sudah pernah nginap 9 bulan 10 hari di alam rahim. Pos ketiga adalah alam dunia. Alam yang kita tempati saat ini, tugas kita adalah memakmurkan bumi dengan menebar kedamaian bukan menebar kebencian. Pos keempat adalah alam barzakh (kubur). Dari dunia menuju pos keempat dan nginap di alam barzakh untuk beberapa saat lamanya.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke alam kekal abadi, alam akhirat. Jika selama perjalanan di alam dunia kita selalu pada jalus dan koridor yang baik, maka kita akan mendapat kedamaian dan masuk di  istana rahmat Allah swt, tetapi jika selama perjalanan kita sering tersesat dan menyesatkan, tentu yang dihasilkan adalah murka (Siksa).

Di alam roh transit ke alam rahim. Di alam rahim terjadi Memorandum of understanding (MOU) perjanjian dengan Allah Swt. Ketika apel besar dikumpulkan semua roh. Allah melakukan miizaaq (Pejanjian) dengan para roh. Dalam sebuah riwayat Imam Tarmidzi Rasulullah Saw bersabda bahwa saat penciptaan Adam Allah mengusap punggung Adam lalu keluar dari punggung itu setiap ruh yang menyerupai biji atom yang berjatuhan.

Ruh itu kemudian dijadikan berpasang-pasangan lalu diambil janji dan kesaksiannya. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"(QS. Al A’raf ayat 172).

Bila sanggup melakukan esensi perjanjian itu, maka lahirlah manusia itu di alam ini. Konsekwensi dari perjanjian itu adalah kesanggupan untuk melakukan perintah dan menjauhi larangan Allah swt. Lahir di alam dunia bukti manusia sanggup, karena andai tidak sanggup mnaka batas perjalanannya hanya sampai di alam rahim.

Koridornya untuk menjalankan amanah Allah swt sangat jelas. Iman dan Taqwa dua hal yang menjadi syarat bagi manusia selamat menempuh perjalanan. Namun manusia terkadang lupa terhadap janjinya. Allah swt berfirman dalam QS. Al-Hadid (57) ayat 8, Dengan membaca ayat ini, membuka mata hati kita untuk meningat perjanjian yang pernah dilakukan pada alam roh/alam rahim.

Menempati alam dunia ini dengan berbagai tugas dan kewajiban yang telah direkomendasikan oleh Allah swt untuk bekal melanuutkan perjalanan. Lalu, apa yang telah kita siapkan di dunia ini, itulah yang akan kita peroleh di akhirat kelak.
Nabi besabda : Adduniya mazraatul akhirah (Dunia adalah kebun untuk akhirat) dunia tempat bercocok tanam dan panennya nanti di akherat.

Maksudnya apa yang kita tanam di alam dunia, itulah yang akan dipanen pada saat yang te;lah ditentukan. Agar panennya berhasil, perlu ada buku juknisnya. Juknis yang paling bagus adalah Quran dan HaditsRasulullah bersabda: Taraktu fiykum amraini maa intamassaktum bihima lantadhillu abada. Kitaballahi wasunnatiy. (Aku tinggalkan pada kalian dua pusaka, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya. Pusaka itu adalah kita Allah Al Qur’an dan Sunnahku (Al Hadits).

Selama manusia di dunia, umat manusia diharapkan mempersiapkan bekal untuk melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya. Alam dunia disiapkan oleh Allah agar manusia menata diri, memperbanyak bekal. Dan bekal paling utama adalah taqwa “Watazawwaduu, painna khairazzaadittaqwa” (Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah Taqwa).

Memasuki pos alam barzakh selanjutnya menuju alam baqa (Akhirat) tiketnya hanyalah taqwa. Tidak lagi berguna mobil, harta, kekayaan, dll. Itulah sebabnya Allah Swt mewanti-wanti dalam QS. Ali Imran (3) ayat 102: Salah satu makna dari taqwa adalah merasa selalu diawasi oleh Allah swt. Manusia yang bertaqwa selalu merasakan kehadiran Allah swt.

Jadi orang bertaqwa itu sangat peka akan kehadiran Allah. Maka seseorang tidak akan korupsi , seseorang tidak akan melakukan penyalahgunaan narkoba, seseorang tidak akan melakukan mabuk mabukan, zina dsb, tapi mengapa semua itu kadang terjadi dan menjadi budaya bangsa manusia, termasuk di Indonesia?? Jawabannya, mereka tidak merasakan kejhadiran Allah swt sebagai pengawas dalam kehidupannya.

Peta perjalanan manusia yang harus ditempuh mulai dari alam roh, alam Rahim, alam dunia, alam barzakh dan alam akhirat. Maka sekali lagi mari kita camkan, evaluasi diri dengan menengok peta hidup kita dari jaman roh hingga jaman now untuk mempersiapkan perjalanan. Dan bekal paling utama adalah TAQWA. Wallahu a,lam (Mariso-Makassar, 24 Desember 2019).**


Penulis: Abdul Rahman Arok (ASN Kemenag, Wakil Sekretaris Pokjawas Madrasah Kemenag Polman, Pecinta Literasi).

Acc/Editor by Inmas Kemenag Polman (Ahmad F)

 


Download File : 1577163525851671.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan