Dekat Ke Tuhan, Dekat Ke Manusia
Oleh Ustd Ilham Sopu (ASN Kemenag Polman / Pembina Ponpes Nuhiyah Pambusuang)

By Administrator 05 Nov 2019, 05:29:18 WIB | dibaca 440 kali Opini
Dekat Ke Tuhan, Dekat Ke Manusia

Islam itu agama ritual sekaligus agama sosial, semua agama punya sisi ritual sekaligus sisi sosial. Tetapi antara satu agama, dengan agama yang lain, ada perbedaan kadar ritual dan kadar sosial, ada agama yang lebih mementingkan kadar ritual dibandingkan dengan kadar sosial, dan ada pula sebaliknya kadar sosialnya lebih tinggi jika dibandingkan kadar ritualnya. Menurut Dr KH Jalaluddin Rakhmat atau yang akrab dipanggil Kang Jalal, bahwa ayat ayat yang menyangkut ibadah sosial jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan ayat ayat berbicara tentang ibadah ritual. Berangkat dari pembagian ini sehingga muncul istilah islam ritual dan islam sosial.

Dalam kajian pemikiran islam, ada indikasi bahwa seluruh ibadah yang sifatnya ibadah mahdhah, itu akan selalu mengandung aspek sosial, ibadah salat misalnya, itu adalah ibadah mahdhah,  tapi punya aspek sosial. Kalau kita meruju ke Qur'an surah Almaun,  tentang orang yang shalat, yang bermasalah dengan shalatnya, "Celakahlah orang yang shalat ",  orang yang shalat tapi celakah, karena shalatnya cacat dari aspek sosialnya. Begitu juga dengan ibadah puasa, sebagai ibadah mahdhah, tentu punya aspek sosial, orang yang berpuasa dengan baik, tapi sering mengganggu tetangganya, orang itu tempatnya di neraka, itu adalah aspek sosial.  Itu adalah aspek sosial dari sisi negatif.

Dari sisi positifnya, aspek ekstrinsik dari shalat adalah punya nilai nilai humanisme, shalat akan menterjemahkan nilai nilai intrinsik ke nilai nilai ekstrinsik, atau dalam bahasa Nurcholish Madjid, simbol ritual dalam shalat yaitu Takbir, dan simbol sosialnya adalah simbol salamnya. Keduanya mengekspresikan simbol keilahian dan simbol kemanusiaan. Salah satu peristiwa sejarah yang terkait dengan ajaran shalat adalah peristiwa isra' dan mi'raj, disitu ada dua model perjalanan yaitu perjalanan vertikal dan perjalanan horizontal. Ini sangat sesuai dengan inti dari isra' mi'raj itu ada pengajaran shalat yang diberikan oleh Tuhan kepada Muhammad, yang didalamnya terkandung dialog vertikal kepada Tuhan dan setelah itu dialog kepada sesama manusia lewat simbol salam.

Betapa Muhammad saw sangat punya kepekaan sosial kemanusiaan yang sangat tinggi, ketika  berada dipuncak spritual yang sangat tinggi berdialog dengan Tuhan di sidratul muntaha, dari sisi spritual mungkin Muhammad akan keenakan  berbincang bincang dengan Tuhan, tapi Muhammad itu, bukan kepentingan pribadinya yang di pikirkan, dia ingin, apa dia rasakan, dapat dirasakan oleh ummatnya, lewat ajaran shalat. Maka Muhammad tidak berlama lama bermeditasi dengan Tuhan di sidratul muntaha. Muhammad saw bergegas menuju ke bumi untuk menviralkan ajaran ajaran shalat yang baru saja diterima dari Tuhannya.

Betapa kalau kita kaji dengan seksama ajaran shalat, kita akan merasakan betapa Tuhan itu sangat dominan, setiap kali perpindahan pergerakan, kalimat tauhid yang menjadi simbol pergerakan. Kita bisa memberikan makna bahwa seluruh pergerakan manusia, jangan pernah terlepas dari campur tangan Tuhan. Ajaran shalat itu adalah ajaran keselamatan. Itulah sebabnya mengapa shalat itu oleh nabi menjadi tiang dari agama. Artinya bahwa tidak ada artinya ibadah ibadah lainnya kalau ibadah shalatnya bermasalah. Dalam hadis diinformasikan bahwa yang paling pertama diperiksa amal seorang hamba adalah shalatnya, kalau shalatnya baik maka amal yang lain akan menjadi baik, jika shalatnya bermasalah, maka seluruh amal ibadah lainnya akan ikut bermasalah.

Kalau kita mencoba mengekspresikan ajaran shalat dalam kehidupan sehari-hari, niscaya kita akan merasakan ketenangan sebab, Tuhan tidak pernah terlepas dari ke maha hadirannya, Tuhan akan selalu hadir dan kita merasakan kehadirannya. Simbol simbol Allah Akbar tidak akan pernah terlepas dalam aktifitas kita, seperti yang tergambar dalam aktivitas shalat, sejak awal shalat, kemudian ruku kemudian sujud kemudian naik kembali dan seterusnya, tidak pernah lepas dari lambang kebesaran Tuhan. Kita tidak akan pernah merasa kesepian, jika Tuhan yang menjadi teman dalam perjalanan. Dan pada akhirnya kita akan merasakan keselamatan.

Diujung perjalanan kita akan sampai ke kekedamaian yang disimbolkan dengan salam. Kita merasa damai dekat dengan Tuhan sekaligus merasa damai dekat dengan sesama manusia. Disamping kita merasa dekat Tuhan dan merasa dekat sesama manusia. Juga akan terjauhkan dari siasat iblis. Iblis akan merasa kesulitan jika menghadapi orang yang shalat. Dalam Qur'an iblis banyak menggunakan jurus dalam menjatuhkan manusia untuk kedua kalinya. Setelah yang pertama ketika menghadapi adam di surga, iblis mencoba mendekati adam, dengan berbagai lobi-lobi yang menggiurkan, yakni mencoba memberikan pemahaman kepada adam, bahwa pohon khuldi itu adalah pohon kekekalan yang jika didekati akan membuat adam kekal di surga.

Karena salah satu kelemahan manusia adalah mudah untuk tergoda. Sehingga adam terperdaya dengan ucapan ucapan iblis yang punya daya tarik yang sangat luar biasa. Oleh sebab itu, jurus iblis selanjutnya semakin ketat, karena Tuhan sudah memberikan ultimatum kepada iblis bahwa iblis itu punya tempat yang terendah diakhirat kelak. Dan Tuhan memberikan kebebasan kepada iblis untuk memanfaatkan sisa sisa umurnya untuk memperbanyak temannya dari golongan manusia. Seperti diinformasikan dalam Qur'an bahwa iblis datang dari berbagai penjuru, muka, belakang, samping kiri dan samping kanan. Hampir seluruh jalan dikunci oleh iblis. Manusia banyak tersesat dengan jurus jurus yang begitu canggih.

Kalau kita menelaah jebakan jebakan iblis yang diinformasikan di Qur'an, disitu tidak disebutkan arah atas dan arah bawah. Tuhan memberikan jalan keluar kepada manusia sekaligus kelemahan iblis. Dari arah atas dan arah bawah, jawabannya ada dalam shalat, ingat kepada Tuhan arahnya adalah simbol atas dan bawah. Shalat akan membawa kita banyak mengingat Tuhan, dengan bermunajat ke atas dan bersujud sebagai simbol kedekatan manusia dengan Tuhan.

Akhirnya marilah kita evaluasi diri kita setiap hari, setiap saat, bahwa manusia adalah makhluk yang yang punya potensi yang sangat besar untuk dekat  dengan Tuhan,  dan dekat dengan sesamanya sebagaimana tersimpul dalam ibadah shalat. (Bumi Pambusuang,  Sabtu 5 Oktober 2019).

Penulis : Ustd Ilham Sopu

Acc/Editor by Inmas Kemenag Polman (Ahmad F)


Download File : FB_IMG_1572735375051~22.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan