Damai Dalam Natal
Oleh Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pokjawas KanKemenag Polman)

By Administrator 23 Des 2019, 09:17:07 WIB | dibaca 682 kali Opini
Damai Dalam Natal

Indonesia adalah negeri yang penduduknya majemuk. Berbagai macam suku, budaya, agama mendiami negeri sepotong surga ini. Dan Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian yang pemeluknya mayoritas di bumi Nusantara. Agama yang diajarkan oleh Sang rahmatan Lil’aalamin. Nabinya adalah rahmat untuk sekalian alam, agama yang diajarkannya pun agama rahmatan lil’aalamin.

Salah satu istansi yang merangkum semua agama adalah Kementerian Agama Republik Indonesia. Staf dan pegawaianya berasal dari agama yang berlaku di Indonesia. Islam, Kristen (Katolik/Protestan), Hindu, Budha dan Konghuchu. Jika umat Islam aktif ibadah dan ritual kemasyarakatannya Nampak di bulan Muharram dengan tahun baru hijriyah dan asyurahnya, bulan Rabiul Awal dengan peringatan mauled dimana-mana, bulan Rajab dengan isra’ Mirajnya, bulan Ramadhan dengan puasa dan nuzulul qur’annya, bulan Syawal dengan Idul Fitrinya, bulan Dzulhijjah dengan Idul Adha, Berkurban dan Ibadah haji. Begitu pun dengan agama lain semua ada hari rayanya dan diakui oleh Negara Pancasila.

Bulan Desember bagi agama Kristen adalah peringatan Natalnya. Apalagi memasuki tanggal 25 Desember setiap tahun hingga 1 Januari adalah hari-hari penting bagi Ummat Kristiani. Natal dan tahun baru masehi. Hari-hari sibuk bagi saudara kita ummat Kristen. Setiap hari natal, marak ucapan SELAMAT HARI NATAL, yang bukan saja dilontarkan oleh umat kristiani, tetapi juga umat Islam. Di kalangan Islam, ada yang membolehkan ucapan selamat hari natal, ada juga yang mengharamkan.

Seringkali terjadi perdebatan, bahkan sampai memvonis kafir bila mengucapkannya. Lalu dimana posisi agama Islam sebagai rahmatan lil’aalamin. Saling mengkafirkan adalah alamat kurang baik bagi perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara plus kehidupan beragama khusunya di bumi Nusantara.

Tanpa mengklaim, benar atau salah antara yang membolehkan ucapan selamat hari natal dengan kelompok yang mengharamkannya, penulis mencoba mencari referensi untuk hukum mengucapkan selamat hari natal itu.  Husnul Haq, dalam sebuah uraiannya mengemukakan: Pertama, tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan tegas menerangkan keharaman atau kebolehan mengucapkan selamat Natal. Padahal, kondisi sosial saat nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam hidup mengharuskannya mengeluarkan fatwa tentang hukum ucapan tersebut, mengingat Nabi dan para Sahabat hidup berdampingan dengan orang Yahudi dan Nasrani (Kristiani).

Kedua, karena tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan tegas menerangkan hukumnya, maka masalah ini masuk dalam kategori permasalahan ijtihadi yang berlaku kaidah: Permasalahan yang masih diperdebatkan tidak boleh diingkari (ditolak), sedangkan permasalahan yang sudah disepakati boleh diingkari. Ketiga, dengan demikian, baik ulama yang mengharamkannya maupun membolehkannya, sama-sama hanya berpegangan pada generalitas (keumuman) ayat atau hadits yang mereka sinyalir terkait dengan hukum permasalahan ini. Karenanya, mereka berbeda pendapat.

Referensi kedua, penulis membaca sebuah artikel dari seorang guru besar (yang juga pernah mengajar penulis pada program Pasca Sarjana UIN Makassar), beliau adalah Prof. Dr. Ahmad M. Sewang, berikut penulis mengutipnya secara lengkap untuk menjadi kajian bersama: Khazanah Sejarah: Beberapa Catatan Dari Diskusi DPP IMMIM Tentang Ucapan, "Selamat Merayakan Hari Natal"(1) By Ahmad M.  Sewang Hari Sabtu 21 Desember 2019,  DPP IMMIM melaksanakan diskusi tentang menyikapi perayaan hari-hari besar agama lain. Dalam hal ini hari Natal yang tinggal tiga hari lagi saudara-saudara kita dari umat Kristiani  akan merayakannya.

Pada pertemuan itu, penulis menyampaikan bahwa pada dasarnya ulama Islam baik Salaf atau pun Khalaf umumnya mereka memandang bahwa mengucapkan selamat hari Natal pada mereka adalah ikhtilaf. Umumnya ulama Salaf tidak memperbolehkan mengucapkan Selamat Merayakan Hari Natal, yaitu empat imam mazhab, Ibn Taimiah dan sebagian kecil ulama Khalaf, seperti Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz. Mereka khawatir, jangan sampai umat terjerumus ke dalam kemusyrikan, yaitu mempercayai bahwa Nabi Isa adalah anak Tuhan.

Berbeda dengan Ulama Khalaf. Mereka membolehkan mengucapkan Selamat Merayakan hari Natal sebagai bagian berbuat baik pada sesama manusia, seperti diperintahkan oleh al-Quran. Ulama Khalaf yang membolehkan  adalah Wahbah al-Zuhayli, Syekh Yusuf al-Qordawi, Mufti Mesir, Syaraf Qudat. Di Indonesia, seperti Prof. Quraish Shihab Prof. Said Aqil, Prof. Din Syamsuddin, dan ulama lainnya. Penulis lebih cendrung sependapat para ulama Khalaf dengan pertimbangan negara kita berbhinneka dan untuk memelihara persatuan dan toleransi  perlu saling hormat sesama bangsa Indonesia.

Walau demikian mereka bersepakat, ulama Salaf dan Khalaf, yaitu, "Mereka tidak membolehkan umat Islam untuk ikut serta dalam acara ibadah ritual mereka". Bagaimana, jika seseorang sebagai pejabat? Bisa saja meminta untuk mendahulukan seremonialnya, seperti mendahulukan untuk memberi  sambutan dan setelah itu dia bisa minta izin meninggalkannya, seperti sudah banyak dicontohkan para pejabat. Perlakuan ini tidak bisa dimaknai tidak toleransi, tetapi justru sebagai bentuk realisasi pelaksanaan UUD 1945 pasal 29 ayat 2. (Wassalam, 22 Desember 2019, Ahmad M. Sewang)

Sebagai catatan untuk menciptakan kedamaian di bumi Nusantara. Mari mencoba mengaktualisasikan indahnya moderasi beragama. Bagi yang mengharamkan silakan, jangan memaksakan kehendak untuk diikuti oleh yang membolehkan. Karena sama-sama memiliki dasar. Yang membolehkan mereka berlandaskan pada firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 8: Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Pada ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik kepada siapa saja yang tidak memeranginya dan tidak mengusirnya dari negerinya. Sedangkan, mengucapkan selamat Natal merupakan salah satu bentuk berbuat baik kepada orang non Muslim yang tidak memerangi dan mengusir, sehingga diperbolehkan.

Selain itu, mereka juga berpegangan kepada hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam riwayat Anas bin Malik: “Dahulu ada seorang anak Yahudi yang senantiasa melayani (membantu) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia sakit. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya untuk menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya, kemudian berkata: “Masuk Islam-lah!” Maka anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang ada di dekatnya, maka ayahnya berkata:‘Taatilah Abul Qasim (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).” Maka anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar seraya bersabda: ”Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka.” (HR Bukhari, No. 1356, 5657).

Menanggapi hadits tersebut, ibnu Hajar berkata: “Hadits ini menjelaskan bolehnya menjadikan non-Muslim sebagai pembantu, dan menjenguknya jika ia sakit”. (A-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, juz 3, halaman 586).

Pada hadits di atas, Nabi mencontohkan kepada umatnya untuk berbuat baik kepada non-Muslim yang tidak menyakiti mereka. Mengucapkan selamat Natal merupakan salah satu bentuk berbuat baik kepada mereka, sehingga diperbolehkan. Dari pemaparan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang ucapan selamat Natal. Ada yang mengharamkan, dan ada yang membolehkan. Umat Islam diberi keleluasaan untuk memilih pendapat yang benar menurut keyakinannya. Maka, perbedaan semacam ini tidak boleh menjadi konflik dan menimbulkan perpecahan. Wallahu a’lam (Manding, 24 Desember 2019).**

Penulis: Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd. I (ASN Kemenag Polman, Wakil Sekretaris Pokjawas Madrasah Kabupaten Polewali Mandar, Muballig dan Pecinta Literasi).

Acc/Editor by Inmas Kemenag Polman (Ahmad F)


Download File : mppupm-xmas_tree.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan