CAMMANA: MANU-MANU DI SURUGA
Oleh: Burhanuddin Hamal, S.Ag (Penyuluh Agama Islam Kec. Tinambung)

By Administrator 08 Sep 2020, 20:07:31 WIB | dibaca 205 kali Opini
CAMMANA: MANU-MANU DI SURUGA

"...Manu-manu' di Suruga saicco' talle woi mappettuleang Tokalepu sambayanna, laettoi tia a'dupanna Tokalepu sambayanna... paccing atena, je'ne' kerona, satinja pelli'ana" (burung-burung penghias keindahan Surga, setiap saat hadir mencari sosok yang utuh sembahyangnya, lain pula auranya diri yang utuh sembahyangnya, bersih hatinya, sikap dan perbuatannya pun tak lepas dari makna wudhu dan nilai-nilai pensucian diri).

Untaian Kalinda'da' (syair-syair lokal berisi petuah) di atas merupakan diantara yang kerap dilantunkan Ibu Cammana Sang penabuh rebana religi dari tanah Mandar ini. Beliau telah menghembuskan nafasnya yang terahir tepatnya Senin 7 September 2020 sekitar pukul 15.55 Wita. Kepergiannya meski menyiratkan duka mendalam namun sosok sederhana itu banyak memberi kita inspirasi positif terkait petuah-petuah religi demi pendewasaan diri.

Puncak renungannya adalah kenapa yang dicari dalam petuah lokal di atas bukan sosok yang "banyak sembahyangnya" tetapi sosok yang "sembahyangnya utuh"? Meski kuantitas shalat tak dilarang dalam agama, namun tidakkah ini berarti bahwa beragama secara utuh jauh lebih menjamin kemaslahatan dan keselamatan hidup manusia dibanding sekedar beragama dalam tatanan formalitas?

QS. Al-Ankabut: 45 menyebutkan "sesungguhnya shalat mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar". Ini bisa dimaknai bahwa ketika kita belum merdeka dari ragam kejahatan (apapun itu) maka shalat yang kita kerjakan di 5 siklus waktu patut dipertanyakan. Tentu saja muatan ini semuara dengan petuah lokal di atas. Manusia bisa saja terlihat rajin melakukan shalat sepanjang waktu namun tanpa penghayatan nilai pada aspek-aspek dirinya secara menyeluruh maka pasti ggagal mencapai target dari shalat itu sendiri. Sebaliknya, ritualitas shalat yang nilai positifnya memantul dan meliputi kesadaran pikiran, sikap dan keputusan perbuatan pasti "mengendalikan" manusia dari hal-hal yang tak semestinya.

Hingga kini, efektifitas beragama kita terbukti belum bisa maksimal dalam kenyataan. Ini disebabkan bukan hanya karena masih nihilnya kita mengetahui hal-hal keagamaan, melainkan kebanyakan yang sudah memahami agama pun terbius dalam jebakan sekularisme (memisahkan agama dari aktivitas keduniaan). Penggalan syair lainnya pun mengkritisi "allo wongi Puang dirappe, sae tomi disenga' kasi'na lino towandi mattarra'i paelo'ta" (siang malam nama Tuhan kita sebut, lama sudah kita menempatkan-Nya dalam harapan, namun sayang hal-hal over Duniawi juga yang memenuhi ruang selera). Situasi macam ini jelas kontradiktif dengan fungsi agama sebagai yang akan menyelamatkan kehidupan manusia dari berbagai macam kekacauan dan kehancuran peradaban.

Namun demikian, solusi dari semua ini terlantun dalam syair-syair religi lainnya dimana Maestro Rebana Mandar yang telah berpulang menuju keabadian ini mengingatkan "TAPPA' DIWAWA POLE, SIRI' DIPAPPUTIANG, RAKKE' DI PUANG IYAMO SULO TONGAT-TONGAN DI WAONA LINO" (kita lahir dengan Iman, realitasnya dibungkus bahasa moral, taqwa pada Tuhan itulah sejatinya obor penerang hidup di atas bumi)

Semoga semua ini menjadi amal jariyah buat mendiang Ibu Cammana dan figur-figur budayawan Mandar lainnya, AL-FATIHAH.....


Download File : manu_manu_di_syuruga.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan