Bengkel Kehidupan (Telaah Filosofis)
Oleh: Burhanuddin Hamal (Penyuluh Agama Islam / ASN Kemenag Polman)

By Administrator 02 Feb 2020, 08:27:50 WIB | dibaca 785 kali Opini
Bengkel Kehidupan (Telaah Filosofis)

Satu sisi, ada kesamaan antara manusia sebagai benda hidup dengan benda mati seperti halnya kendaraan. Untuk "penyehatan" keberadaannya maka secara berkala dan rutin kedua jenis benda tersebut penting mengalami perbaikan unsur-unsur.

Bengkel bagi para anak-anak didik adalah sekolah (formal maupun informal). Bengkel bagi kendaraan tempatnya di gardu-gardu mekanik sepanjang jalan, dan bengkel manusia terkait seluruh permasalahan hidupnya sentralnya ada pada momentum shalat 5 waktu.

Seperti halnya kondisi kendaraan dimana sejumlah onderdilnya berpotensi mengalami kerusakan dan relatifitas mutu dari masa ke masa, manusia pun demikian. Keterkaitan diri dengan proses waktu tempat manusia berpacu mengejar obsesi dan meretas ragam persoalan hidup dalam variatifnya tantangan situasi pasti memneri dampak pada realita "ketidak-stabilan" diri (gangguan kesehatan lahir dan batin).

Klimaks dari semua ini, cepat atau lambat mengantar manusia pada keyakinan terkait pentingnya arti beragama dalam kehidupan. Tentu saja capaiannya adalah dengan makin meningkatnya penghayatan spritualitas manusia pada tataran vertikal, fakta-fakta horisontalnya pun makin membuktikan reputasi positif dalam tatanan perilaku sosial kemanusiaan.

Antara kedua jenis hubungan di atas (vertikal dan horisontal) harus bersinergi dalam keseimbangan. Jika tidak, maka bukan saja menafikan muatan QS. Ali Imran: 112 sebagai target kewajiban shalat, tetapi ritual peribadatan apapun selamanya akan gagal mengantar manusia menuju "keselamatan hidup universal".

Intensitas penghayatan vertikal yang ada di 5 terminal waktu shalat merupakan sumber perbaikan-perbaikan diri dan kehidupan manusia. Sebagai ritual suci maka prosesi shalat mensyaratkan manusia untuk berwudhu sebagai simbol pembersihan totalitas diri secara lahir dan batin.

Kewajiban shalat sifatnya mutlak dikerjakan oleh siapapun, dimana pun dan sampai kapan pun. Ini mengisyaratkan bahwa sesibuk apapun manusia dalam kehidupan Duniawinya dan setinggi apapun skala kekuasaannya ia tidak boleh melupakan Tuhan. Bahkan, agar seluruh aktivitas-aktivitas Duniawinya bernilai ibadah (legal dalam pandangan Tuhan dan manusia) maka prosesnya harus berjalan dalam prinsip "dari Allah, dengan Allah dan untuk Allah". Prinsip yang demikian secara otomatis menjadi "pengendali" bagi manusia sehingga penghayatan nilai-nilai shalat yang dilakukan terimplementasi secara positif dalam pergulatan aktivitas-aktivitas keduniaan (muatan QS. Al-Ankabut: 45).

Shalat sebagai sentralisasi penghayatan diri dan perbaikan cara hidup menyajikan ajaran Tuma'ninah (ketenangan dalam tempo-tempo gerakan shalat). Ini menunjukkan betapa pentingnya manusia mengenal sifat Tabayyun (kehati-hatian) dalam merespon segala macam hal tentang kehidupan.

Ahirnya, prosesi syari'at shalat ditutup dengan ucapan "salam" yang mengandung harapan keselamatan. Ini berarti para pelaku shalat mestinya selalu insaf dan mampu membagi realitas keselamatan serta makna-makna kedamaian bagi kehidupan alam seisinya (misi Khalifah Tuhan).

Terkait shalat sebagai bengkel kehidupan diri manusia maka kemalasan dalam mengerjakan shalat 5 waktu atau mengerjakan tapi tak "mendirikan nilainya" sama halnya memiliki kendaraan namun tak pernah memperhatikan jadwal servisnya secara berkala. Dengan begitu, kemuliaan hidup apa yang bisa diharapkan dari "pengingkaran hakikat diri" seperti ini?.....Wallahu a'lam.**

Penulis : Burhanuddin Hamal (ASN Kemenag Polman/Penyuluh KUA Kec. Limboro)

Acc/Editor : Inmas Kemenag Polman (Ahmad F)


Download File : 1580606495659235.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan