Asah, Asih, Asuh (Sebuah Prinsip Pendidikan)
Oleh Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pokjawas KanKemenag Polman)

By Administrator 08 Des 2019, 11:16:37 WIB | dibaca 2342 kali Opini
Asah, Asih, Asuh (Sebuah Prinsip Pendidikan)

Anak yang cerdas dambaan semua orang tua. Namun tidak semua orang tua dapat menjadikan putera puterinya menjadi cerdas sesuai dambaan. Ada orang tua yang menginginkan kecerdasan anaknya dengan memasukkan ke sekolah mulai PAUD, Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, Raudhatul Athfal, Madrasah atau sekolah (SD/MI, SMP,MTs, dan SMA/MAN), anak anak yang tumbuh menjadi cerdas, sebaliknya ada juga yang tumbuh kurang cerdas.

Menurut Ki Hajar Dewantara sebagaimana yang ditulis dalam buku “Melejitkan Kecerdasan Anak Melalui Dongeng” Bisri Mustafa mengutip bahwa, dalam meningkatkan kecerdasan anak, harus diciptakan suasana pendidikan yang tepat dan baik, yaitu pendidikan dalam suasana kekeluargaan dan dengan prinsip asih (kasih), asah (memahirkan), asuh (bimbingan).

Anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik ketika mendapatkan perlakuan dengan baik, yaitu mendapat perlakukan kasih sayang, pengasuhan yang penuh pengertian dalam situasi yang nyaman dan damai. Ki Hajar Dewantara sang bapak pendidikan itu menganjurkan agar dalam pendidikan anak memperoleh sesuatu yang mendapat mencerdaskan pikiran, menguatkan hati dan meningkatkan keterampilan tangan (educate the head, the heart and the hand).

Aktualisasi pembelajaran melalui prinsip asih, asah dan asuh dapat dilakukan dengan menciptakan suasana belajar yang akrab, hangat, ramah serta bersifat demokratis. Anak diberikan kesempatan untuk menentukan keinginannya sendiri karena dalam masa kanak-kanak itu mereka sedang membutuhkan kemerdekaan dan perhatian dalam belajar. Anak biasanya memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar yang ingin diwujudkannya. Guru dan orang tua diharapkan memiliki skill untuk mewujudkan rasa ingin tahu anak tersebut.

Guru dan siapa pun kita sebagai orang tua hendaknya memperhatikan beberapa sinyalemen berikut: Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki; Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi; Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri; jika anak dibesarkan dengan penghinaan ia belajar menyesali diri; jika anak dibesarkan dengan kekerasan, ia belajar untyuk melawan.

Sebaliknya perlu dipahami bahwa jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri; jika anak dibesarkan dengan dorongan’ ia belajar percaya diri; jika anak dibesrkan dengan pujian’ ia belajar menghargai; jika anak dibesarkan dengan sebaik-sebaik perlakuan, ia belajar keadilan; jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Prinsip asah asih dan asuh sangat penting diterapkan kepada anak di usia emas mereka (the golden age). The golden age adalah masa keemasan manusia, priode usia yang amat penting bagi anak, maka pendidikan pad arentang usia tersebut sangat menentukan tahap perkembangan anak selanjutnya. Masa keemasan tersebut barada pada rentang usia 0 smpai 6 tahun. M,enurut penelitian kecerdasan seorang anak mencapai 50 persen pada usia 0 sampai 4 tahun, usia 8 tahun kecerdasannya meningkat sampai 80 persen, dan puncaknya 100 persen pada usia 18 tahun.

Untuk menjadikan anak anak menjadi cerdas, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, seperti yang dikutip Bisri Muhammad, mengemukakan beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak. Antara lain: Menumbuhkan rasa takut dan minder. Misalnya orang tua mengatakan ketika anak menangis “ awas kalau menangis ada polisi, awas ada hantu” hal tersebut membuat anak takut. Tindakan ini akan membuat anak-anak takut sehingga tidak memiliki rasa percayadiri.

Anak sombong doianggap pemberani. Misalnya orang tua bangga “Anak-anak saya telah menjadi pemberani, berani ngomong di depan temannya kalau diaseorang anak pejabat, makanya temannya pada takut”. Sikap berani yang sebenarnya bukan berani untuk sombong tetapi mengatakan kebenaran, karean sikap sombong dapat menjadi bumerang bagi anak tersebut.

Membiasakan anak hidup poya-poya dan mewah. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, mebunuh sikap istiqamah, membinasakan harga diri dan kebenaran. Hidup dalam kemewahan akan membunuh rasa empati dan simpati pada sesama. Rasa sosial akan terkikis. Tahunya ia anak yang serba kecukupan, jika ada orang butuh bantuan boleh jadi ia berkata “Salah sendiri miskin, kya dong seperti aku”.

Selalu memenuhi permintaan anak. Perlu dipahami bahwa tidak semua permintaan anak itu bermnfaat dan sesuai dengan usia dan kebutuhnnya. Anak yang selalu dituruti kemauannya menjadi anak yang lemah, egois, inpulsif (melakukan sesuatu tanpa perhitungan) dan tidak bisa memperhatikan kepentingan orang lain.

Orang tua menerima senjata tangisan dari anak. Seorang anak yang menginginkan sesuatu menjadikan “menangis” sebagai senjata, dan orang tua terkadang cepat merespon tangisan anak. Anak yang demikian akan menjadi cengeng, lemah dan tidak memiliki jatidiri.

Terlalu keras dan kaku dalam menghadapi anak bahkan melebihi batas kewajaran. Misalnya menampar,  memukul, menendang,  dan segala perbuatan yang menyakiti fisiknya. Juga dapat berupa kekerasan terhadap psikis meliputi ejekan, hinaan, sindiran, bentakan dan cara keras lainnya.

Terlalu pelit kepada anak. Orang tua tidak boleh terlalu pelit untuk kebutuhan anak. Orang tua harus memahami secara seimbang kebutuhan si anak. Terlalu pelit dapat merugikan, terlalu boros juga tidak baik bagi perkembangan anak. Tidak memberikan kasih sayang sepenuh hati.

Perhatian orang tua yang kurang dapat membuat anak mencari kasih sayang di luar keluarganya. Beruntung jika kasih sayang yang dia dapatkan dari teman yang baik, tetapi kalau dari seseorang yang kurang baik akan berpengaruh sikap negatif dari pelariannya. Untuk itu orang tua harus memberikan kasih sayang sepenuh hati.

Hanya memperhatikan kebutuhan jasmaninya saja. Padahal kebutuhan rohani juga sangat penting. Misalnya orang tua sudah merasa memenuhi kewajibannya setelah memperhatikan kebutuhan jasmaninya, sandang pangannya dipenuhi. Sementara kebutuhan rohani kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu, orang tua harus mampu memperhatikan perkembangan anak terkait kebutuhan jasmani dan roohaninya.

Orang tua tidak memberi contoh yang baik terhadap anak. Orang tua melarang membuat kesalahan sementara orang tua tidak memberi contoh bagaimana caranya tidak membuat kesalahan. Orang tua melarang membuang sampah sembarangan, sementara dia sendiri membuang sampah sembarangan. Ingat anak itu cermin dari orang tua, apa yang dilakukan oleh orang tua akan terpantul, maka sebagai orang tua beprilakulah yang baik.

Nah, baik orang tua maupun guru, membina dan mendidik anak penting dengan prinsip asih asah dan asuh. Pendidikan dengan memberikan kasih sayang, mengasah diri dan masa depan anak serta mengasuh dengan penuh kesungguhan. Wallahu a’lam bissawab, (Pewatan Anggrek 06A, 8 Desember 2019)**

(Penulis, Abdul Rahman Arok, S.Ag, M.Pd.I, ASN Kemenag Polman, Wakil Sekretaris Pokjawas Madrasah, Muballig dan Penulis, tinggal di Marwah 2 Manding 081355129115)

Acc/Editot by Inmas Kemenag Polman (Ahmad F).

 

 

 


Download File : 8.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan