ANCAMAN KEBANGKRUTAN MANUSIA
Oleh: Burhanuddin Hamal, S.Ag (Penyuluh Agama Islam Kec. Tinambung)

By Administrator 24 Jul 2020, 13:05:23 WIB | dibaca 178 kali Renungan
ANCAMAN KEBANGKRUTAN MANUSIA

Orang-orang yang malas beribadah (ritual maupun sosial) diasumsikan dalam agama sebagai yang tak punya modal dan bekal untuk bisa hidup bahagia di Dunia dan pasca kematiannya. Akan tetapi, mereka yang rajin mengerjakan ibadah selama hidupnya pun ternyata masih perlu memperhitungkan ancaman kebangkrutan di hari kemudian. Selain akumulasi pahala yang diperoleh lewat ibadah shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya, dosa-dosa sosial setiap individu terhadap individu lainnya juga akan dikalkulasi secara rinci di hari pengadilan Tuhan. 

Itulah sebabnya, jangan pernah merasa bangga dengan intensitas ibadah atau kebaikan-kebaikan apapun yang boleh jadi stok pahalanya nanti justru beralih ke orang lain sebagai "pembayaran" atas utang-utang kesalahan sosial kita terhadapnya. Bahkan, bila pahala kebaikan yang kita miliki belum cukup menebusnya maka dosa-dosa orang lain tersebut akan dipikulkan pada kita sampai sangkutan itu dianggap lunas dalam perhitungan keadilan Tuhan. 

Terkait pembelajaran beragama, setidaknya ada dua sifat manusiawi yang perlu dijauhi untuk menghindari ancaman kebangkrutan di hari kemudian. Sifat yang dimaksud adalah KIKIR dan CULAS yang secara sosial muatannya sama. Keduanya beresensi "menahan" atau "menyembunyikan" bagian yang seharusnya menjadi hak orang lain. 

Enggan memgeluarkan zakat, bersedekah serta pelanggaran kewajiban sosial lainnya (dalam porsi hukum kewajaran) sama halnya sengaja menahan atau mengambil sesuatu lebih dari batasan hak pribadi yang boleh dimiliki. Berapa banyak orang miskin, anak-anak yatim dan kelompok dhuafa' lainnya yang ahirnya terlantar akibat banyaknya oknum bermental tamak? Jangankan dalam wujud materi, mahalnya sedekah dalam bentuk "senyum silaturrahmi" antar sesama pun tak jarang terjadi. Kecenderungan inilah kemudian yang didalam agama dikenal dengan sebutan bakhil atau kikir. Kasus culas (istilah halus dari kecenderungan menipu) juga demikian. Bukankah tak sedikit orang yang ahirnya menjadi "korban kedzaliman" saat apa yang seharusnya menjadi hak mereka (apapun itu) tak kita berikan secara wajar lewat prosedur yang semestinya?

Standarisasi potensi manusia memang tak sepenuhnya aman dari kemungkinan salah dan dosa. Akan tetapi, moralitas agama yang berdasar pada keimanan mestinya juga punya fungsi dan peran untuk meminimalir kemungkinan terjebaknya manusia dari gerak nafsu yang tak rasional dan pusaran ambisi yang tak henti menghasut.

Karena itu, bila kebaikan yang kita lakukan bertujuan untuk harapan keselamatan diri dan kehidupan maka kejahatan (dalam semua jenis dan levelnya) pun harus dihindari agar tak berpotensi menjerumuskan kita dalam kenyataan orang-orang bernasib BANGKRUT di pengadilan Akhirat nanti. Muatan QS. Al-Hasyr: 18 secara jelas memberi seruan terhadap orang-orang yang sudah beriman untuk lebih meningkatkan mutu ketaqwaannya pada Tuhan (mujahadah), menyiapkan bekal yang bermanfaat untuk perbaikan nasib dan kehidupannya di "masa depan". Penjabaran makna dari tuntutan ayat ini tercermin pada kenyataan manusia yang mampu mensinergikan antara tatanan ritualnya dengan prinsip Wara' (kehati-hatian) dalam mengolah berbagai macam persoalan-persoalan kehidupan.

Klimaks keseimbangan antara hubungan vertikal (keilahian) dengan horisontal (kesesamaan) bukan hanya harus terfakta dalam kehidupan sosial manusia, tetapi juga memiliki muatan kausalitas (hukum sebab akibat). QS. Al-Zalzalah: 7-8 bahkan memperingatkan manusia tentang kepastian akibat dari pilihan-pilihan perbuatannya. 

Dengan demikian, untuk menghindari ancaman "kebangkrutan abadi", maka sifat AMANAH mestinya menjadi perisai diri manusia dalam mengolah berbagai fasilitas kehidupan. Bukankah Tuhan menitipkan semuanya (apapun itu) sebagai UJIAN yang menentukan bagi keabadian masa depan?...Wallahu a'lam.


Download File : BURHAM.jpg



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Berita Foto

Daftar Agenda

Jejak Pendapat

Bagaimana Pelayanan di Kantor Kementerian Agama Kab. Polewali Mandar?
  Biasa Saja
  Baik
  Ramah
  Memuaskan